Archive

Tag Archives: BGP

Routing BGP  berfungsi untuk mengkoneksikan antara network – network address  yang berbeda AS(Autonomous System) nya sehingga dapat terkoneksi. Protocol – protocol routing lainnya pada routing IGP(Internal Gateway Protocol) dapat dihubungkan kedalam routing BGP dalam hal ini routing IBGP yang akan menghandle routing – routing pada suatu AS. Routing IGP yang dimaksut diatas antara lain RIP, OSPF, IGRP, dan EIGRP maupun routing protocol lainnya. Misalnya protocol routing static, default routing, IS-IS, dan juga routing EGP yang ada. Tujuan utama redistribute routing pada BGP adalah untuk memperkenal routing protocol non-BGP ke routing BGP itu sendiri.

Untuk lebih jelasnya saya akan memberikan salah satu contoh mengenai redistribute routing pada BGP sekaligus  dengan konfigurasi masing – masing router sehingga dapat mengkomunikasikan protocol non-BGP ke routing BGP agar dapat lebih mudah dimengerti. Pada contoh ini saya akan mengambil protocol EIGRP agar dapat dibaca oleh routing BGP. Perhatikan gambar dibawah ini.

Read More

Konfigurasi BGP dengan single default route merupakan settingan routing untuk mengenal routing network yang berada diluar routing tabel yang ada. Misalnya terdapat suatu interkoneksi dengan ISP(internet service provider) dengan router tetangga/neighbor hal ini akan membuat routing pada ISP tidak akan sampai ke router yang kita miliki(konfigurasi). Untuk ini kita membutuhkan konfigurasi router BGP yakni Default-originate, settingan tersebut akan membuat routing pada ISP dapat sampai ke router kita.Sebagai contoh di bawah ini akan menjelaskan konfigurasi router BGP dengan Default-originate.

Penjelasan pada gambar dimana pada kedua router saling terhubung dengan memakai nomor AS sama AS-1. Router A terkoneksi ke Router B dengan network 10.1.1.0 kedua router tersebut dapat saling berkomunikasi tanpa ada halangan. Router B terkoneksi dengan ISP atau Internet dengan network address 10.1.2.0/30 hal ini akan membuat router A tidak bisa mengenal network tersebut karena berada diluar routing tabel router A, untuk itu diperlukan konfigurasi default-route agar network luar dapat dikenal. Berbeda settingan default-router untuk router BGP, kali ini BGP akan memakai settingan sendiri yakni default-originate.

Default-originate akan menerangkan network diluar tabel routing yang kita miliki. Sama halnya dengan settigan routing default-route dipakai untuk routing internal.

Router A

router bgp 1

neighbor 10.1.1.2 remote-as 1

no sync

Router B

router bgp 1

neighbor 10.1.1.1 remote-as 1

neighbor 10.1.1.1 default-originate route-map exists
!

access-list 1 permit 10.1.2.0 0.0.0.3

!

route-map exists permit 10

match ip address 1

Konfigurasi diatas merupakan settingan pada router BGP untuk mendapatkan tabel routing ISP yang akan diperkenalkan pada Router A. Konfigurasi router B akan mengenal network internet kedalam tabel routing BGP router B sehingga router A dapat mengenal network tersebut. Setelah konfigurasi dilakukan coba periksa hasilnya pada tabel routing masing – masing router baik router A dan B dengan command show ip route untuk routing tabel dan show ip route bgp untuk tabel routing bgp. Apabila pada tabel routing tiap–tiap router menunjukan network address ISP/Internet tersebut berarti konfigurasi yang dilakukan berhasil kalo tidak coba lakukan verifikasi ulang terhadap konfigurasi masing -  masing router.

routerA#show ip bgp

BGP table version is 3, local router ID is 172.17.1.1

Status codes: s suppressed, d damped, h history, * valid, > best, i – internal

Origin codes: i – IGP, e – EGP, ? – incomplete

Network          Next Hop            Metric LocPrf Weight Path

*>i0.0.0.0          10.1.1.2                      100      0 i

*>i10.1.2.0/30      10.1.1.2                 0    100      0 i

routerA#show ip route

Codes: C – connected, S – static, I – IGRP, R – RIP, M – mobile, B – BGP

D – EIGRP, EX – EIGRP external, O – OSPF, IA – OSPF inter area

N1 – OSPF NSSA external type 1, N2 – OSPF NSSA external type 2

E1 – OSPF external type 1, E2 – OSPF external type 2, E – EGP

i – IS-IS, L1 – IS-IS level-1, L2 – IS-IS level-2, * – candidate default

U – per-user static route, o – ODR, P – periodic downloaded static route

T – traffic engineered route

Gateway of last resort is 10.1.1.2 to network 0.0.0.0

10.0.0.0/30 is subnetted, 2 subnets

B       10.1.2.0 [200/0] via 10.1.1.2

C       10.1.1.0 is directly connected, Serial0

B*   0.0.0.0/0 [200/0] via 10.1.1.2

Terlihat tabel routing router A network – network yang telah diperkenalkan oleh router B. Terdapat network 10.1.2.0 merupakan network ISP/Internet yang telah default-originate kan router B. Network 10.1.1.0 network terkoneksi langsung oleh kedua router. Apabila ada masalah jangan disimpan dalam hati, tanyakan sama orang yang lebih mengerti . do the best job and you’ll be happy

Lagi iseng – iseng buatin artikel routing protocol, kebetulan aj hari ini lagi punya ide untuk ngembangin artikel diblog giat501. Soalnya sebelumnya males banget nulis artikel ( … mungkin lagi asik – asik nya liatin junior2 baru, abis cakep – cakep cew nya …. :) akhirnya muncul dech ide – ide baru ngelanjutin perjuangan nulis artikel. Nikmati ya dan kalo gak ngerti tanyakan aj, mudah – mudahan bisa kejawab pertanyaannya ….

Routing external merupakan koneksi yang terjadi pada routing – routing protocol berbeda nomor AS(Autonomous System). Pada pembahasan sebelum ini telah dijelaskan tentang AS merupakan system penamaan yang khusus pada suatu area tertentu (perusahaan/instansi besar) memiliki aturan tersendiri dan berbeda dengan area lainnya. Pembahasan kali ini akan menjelaskan analisis antara dua area dengan nomor AS tidak sama.  Seperti gambar berikut :


Pada gambar menjelaskan koneksi antara kedua routing internal dimana routing IGP dikonfigurasi oleh protocol routing OSPF. Dalam hal ini menerangkan koneksi anatara kedua area/lokasi yang berbeda nomor AS-nya masing -masing area memiliki aturan dan otoritas sendiri. Hal tersebut membuat antara kedua nomor AS  tidak dapat terjadi komunikasi, untuk itu dibutuhkan suatu ruting protocol melakukan koneksi antara nomor AS berbeda.

Seperti telah diketahui bahwa routing internal (IGP) suatu routing protocol melakukan koneksi anatara nomor AS sama misalnya OSPF, EIGRP, RIP dll. Sedangkan routing External (EGP), routing protocol untuk koneksi nomor AS berbeda. Untuk dapat melakukan koneksi jaringan pada gambar diatas dibutuhkan routing external BGP. Dalam hal ini BGP terbagi menjadi dua yakni IBGP dan EBGP, kedua routing protocol tersebut memilki karakteristik berbeda walaupun masih pada routing BGP. Routing IBGP dipakai pada koneksi BGP hanya sebagai routing internal pada area AS yang sama, artinya pemakaian routing IGP pada area BGP dapat dilakukan. Hal tersebut terjadi karena routing IBGP merupakan koneksi antara jaringan local pada satu nomor AS tertentu yang akan melakukan koneksi dengan jaringan luar melalui EBGP. Akan tetapi routing IGP dengan IBGP tidaklah sama, sebab protocol IBPG memiliki aturan tersendiri dan berbeda dari protocol – protocol routing IGP lainnya. Untuk itu sangat dibutuhakan pemahaman yang baik agar dapat mengerti tentang BGP (tidak dijelaskan pada pembahasan ini).

EBPG diperlukan pada kondisi ini sebagai koneksi dengan jaringan berbeda nomor AS atau tetangganya. Agar terjadi komukasi antara kedua area jaringan tersebut diperlukan routing EBGP. IBGP akan memperkenalkan network – network mana saja akan di kenalkan dengan tetangganya(nomor AS lain), Kemudian EBGP menyampaikan pesan dari jaringan yang akan dikenalkan tersebut (istilahnya Advertise). Setelah EBGP menyampaikan pesan tersebut, jaringan tetangga akan menerima advertise tersebut dan mencoba untuk melakukan advertise ulang terhadap network – network pada jaringan yang dimilkinya. Artinya tiap – tiap nomor AS akan saling memperkenalkan network – network apasaja ada pada area jaringannya.

Setelah komunikasi terjadi BGP akan bertanggung jawab atas traffic – traffic jaringan antara kedua AS. Management baik sangat diperlukan pada routing BGP karena sedikit salah akan membuat routing tabel berubah, hal tersebut membedakan BGP terhadap protocol – protocol lainnya. Akan tetapi protocol BGP memberikan keleluasaan pada kita untuk memanage routing tersebut dan perlu pemahaman khusus untuk routing BGP. Router BGP mempunyai atibute dan memrupakan inti pada routing BGP. Settingan pada atribute yang baik akan membuat komunikasi antar AS bekerja dengan bagus.

Routing BGP sangat dibutuhkan pada topologi jaringan seperti pada gambar yang akan memgkoneksikan lebih dari satu nomor AS. Hal ini merupakan implementasi terhadap jaringan Internet. Peran BGP sebagai routing protocol untuk Internet sangatlah berarti dan dapat dikatakan BGP sebagai inti dari Internet. saya tidak membahas secara detail BGP inti Internet silahkan tunggu artikel selanjutnya mengenai routing BGP pada Internet.    ^_^

Pada pembahasan sebelum nya telah dijelaskan cara konfigurasi interval waktu pada routing BGP khususnya routing IBGP dan EBGP. Kali ini akan dibahas konfigurasi aggregate local route yakni route – route pada router bgp. Seperti pada gambar terdapat beberapa address route akan dikenalkan ke router tetangganya (Neighbor),.

Pada gambar tersebut terdapat beberapa address route yang di advertise, yakni Router B memliki network address route empat network address.  Agar dapat diminimalisasikan penggunaan network address tersebut kita memkai sistem aggreate network address yang disediakan oleh konfigurasi router BGP. Sebelum melakukan konfigurasi aggregate tersebut, terlebih dahulu lakukan konfigurasi tabel route pada kedua router BGP agar dapat saling berkomukasi dengan router tentangganya.

Router A

router bgp 1

neighbor 10.1.1.2 remote-as 2

Router B

interface loopback 0

ip address 172.16.0.1 255.255.255.0

!

interface loopback 1

ip address 172.16.1.1 255.255.255.0

!

interface loopback 2

ip address 172.16.2.1 255.255.255.0

!

interface loopback 3

ip address 172.16.3.1 255.255.255.0

!

router bgp 2

network 172.16.0.0 mask 255.255.255.0

network 172.16.1.0 mask 255.255.255.0

network 172.16.2.0 mask 255.255.255.0

network 172.16.3.0 mask 255.255.255.0

neighbor 10.1.1.1 remote-as 1

!

Keempat network address pada interface loopback yang menjadi interface simulasi dari percobaan diatas telah dikonfigurasi. Router A dan router B telah terjalin hubungan yang dapat kita lihat pada routing tabel masing – masing.

Router A

routerA#show ip bgp

BGP table version is 16, local router ID is 172.17.1.1

Status codes: s suppressed, d damped, h history, * valid, > best, i – internal

Origin codes: i – IGP, e – EGP, ? – incomplete

Network          Next Hop            Metric LocPrf Weight Path

*> 172.16.0.0/24    10.1.1.2                 0             0 2 i

*> 172.16.1.0/24    10.1.1.2                 0             0 2 i

*> 172.16.2.0/24    10.1.1.2                 0             0 2 i

*> 172.16.3.0/24    10.1.1.2                 0             0 2 i

Router B

routerB#show ip  bgp

BGP table version is 6, local router ID is 172.16.3.1

Status codes: s suppressed, d damped, h history, * valid, > best, i – internal

Origin codes: i – IGP, e – EGP, ? – incomplete

Network          Next Hop            Metric LocPrf Weight Path

*> 172.16.0.0/24    0.0.0.0                  0         32768 i

*> 172.16.1.0/24    0.0.0.0                  0         32768 i

*> 172.16.2.0/24    0.0.0.0                  0         32768 i

*> 172.16.3.0/24    0.0.0.0                  0         32768 i

Pada tabel routing diatas jelas terlihat hasil konfigurasi antara kedua router. Seperti pada penjelasan diatas tujuan konfigurasi yang kita lakukan yakni memperkenalkan network aggregate pada router tetangga. Untuk itu perhatikan konfigurasi berikut ditujukan untuk pada router B yang memiliki empat network address.

Router B

router bgp 2

network 172.16.0.0 mask 255.255.255.0

network 172.16.1.0 mask 255.255.255.0

network 172.16.2.0 mask 255.255.255.0

network 172.16.3.0 mask 255.255.255.0

aggregate-address 172.16.0.0 255.255.252.0

neighbor 10.1.1.1 remote-as 1

Konfigurasi diatas seperti dicetak warna biru terlihat aggregate network dengan subnet 255.255.252.0 mewakili keempat network address sebelumnya dengan subnet 255.255.255.0. Dengan subnet 255.255.252.0 akan lebih sederhana. Dapat telihat pada tabel routing seperti dibawah :

routerA#show ip bgp

BGP table version is 18, local router ID is 172.17.1.1

Status codes: s suppressed, d damped, h history, * valid, > best, i – internal

Origin codes: i – IGP, e – EGP, ? – incomplete

Network          Next Hop            Metric LocPrf Weight Path

*> 172.16.0.0/24    10.1.1.2                 0             0 2 i

*> 172.16.0.0/22    10.1.1.2                               0 2 i

*> 172.16.1.0/24    10.1.1.2                 0             0 2 i

*> 172.16.2.0/24    10.1.1.2                 0             0 2 i

*> 172.16.3.0/24    10.1.1.2                 0             0 2 I

routerB#show ip bgp

BGP table version is 8, local router ID is 172.16.3.1

Status codes: s suppressed, d damped, h history, * valid, > best, i – internal

Origin codes: i – IGP, e – EGP, ? – incomplete

Network          Next Hop            Metric LocPrf Weight Path

*> 172.16.0.0/24    0.0.0.0                  0         32768 i

*> 172.16.0.0/22    0.0.0.0                            32768 i

*> 172.16.1.0/24    0.0.0.0                  0         32768 i

*> 172.16.2.0/24    0.0.0.0                  0         32768 i

*> 172.16.3.0/24    0.0.0.0                  0         32768 i

Konfigurasi network aggreagate diatas merupakan salah satu atribut pada router BGP yakni Atomic – aggregate dimana konfigurasi yang dilakukan sebelumnya akan hilang/lost. Untuk itu dibutuhkan ketelitian pada konfigurasi routing tabel router BGP. Untuk kasus ini kita dapat menggunakan 16 bit mask yakni dengan subnet 255.255.0.0

Router B

router bgp 2

network 172.16.0.0 mask 255.255.255.0

network 172.16.1.0 mask 255.255.255.0

network 172.16.2.0 mask 255.255.255.0

network 172.16.3.0 mask 255.255.255.0

aggregate-address 172.16.0.0 255.255.0.0

neighbor 10.1.1.1 remote-as 1

routerA#show ip route

Codes: C – connected, S – static, I – IGRP, R – RIP, M – mobile, B – BGP

D – EIGRP, EX – EIGRP external, O – OSPF, IA – OSPF inter area

N1 – OSPF NSSA external type 1, N2 – OSPF NSSA external type 2

E1 – OSPF external type 1, E2 – OSPF external type 2, E – EGP

i – IS-IS, L1 – IS-IS level-1, L2 – IS-IS level-2, * – candidate default

U – per-user static route, o – ODR

Gateway of last resort is not set

1.0.0.0/32 is subnetted, 1 subnets

C       1.1.1.1 is directly connected, Loopback0

172.16.0.0/16 is variably subnetted, 5 subnets, 2 masks

B       172.16.0.0/16 [200/0] via 0.0.0.0, 00:03:01, Null0

C       172.16.0.0/24 is directly connected, Loopback1

C       172.16.1.0/24 is directly connected, Loopback2

C       172.16.2.0/24 is directly connected, Loopback3

C       172.16.3.0/24 is directly connected, Loopback4

10.0.0.0/30 is subnetted, 1 subnets

C       10.1.1.0 is directly connected, Serial0

Terlihat hasil pada tabel routing yang tadinya  hilang telah dikonfigurasi ulang untuk mendapat tabel routing lengkap. Apabila masih kurang jelas atau mengerti boleh ditanyakan pada yang bersangkutan, seperti pepatah mengatakan “malu bertanya sesat dijalan“  :)

Tujuan melakukan konfigurasi interval waktu pada sesi routing IBGP(Interior Border Gateway Protocol) dan EBGP(Exterior Border Gateway Protocol) antara lain untuk memperoleh waktu terbaik guna mencapai path terbaik akan tetapi jika interval tidak di set, maka interval waktu akan memakai nilai default nya yakni 5 detik IBGP sedangkan EBGP 30 detik hal ini dilakukan untuk menjaga koneksi antar sesama neighbors pada nomor AS yang berbeda. Dibawah ini akan diberikan salah satu contoh konfigurasi routing  protocol BGP yang membahas mengenai interval waktu advertisement untuk IBGP dan EBGP


Dari contoh  pada gambar diperlihatkan interval waktu IBGP 5 detik kemudian interval untuk EBGP 30 detik. Kita akan melakukan settingan merubah interval waktu agar jadi lebih lama. Untuk itu ikuti  langkah-langkah berikut. Sebelum melakukan verifikasi pada interval waktu routing BGP, terlebih dulu kita setting konfigurasi protocol routing BGP agar dapat berhubungan dengan routing tetangganya.

Router A

router bgp 1

neighbor 10.1.1.2 remote-as 1

Router B

router bgp 1

neighbor 10.1.1.1 remote-as 1

 

neighbor 10.2.1.2 remote-as 2

Router C

router bgp 2

neighbor 10.2.1.1 remote-as 1

Setelah konfigurasi selesai coba lakukan pengujian dan verifikasi terhadap routing yang telah dibuat dengan command show ip route, show ip bgp.

RouterB#show ip bgp neighbors

BGP neighbor is 10.1.1.1,  remote AS 1, internal link

 

Index 0, Offset 0, Mask 0×0

 

BGP version 4, remote router ID 10.1.1.1

 

BGP state = Established, table version = 2, up for 00:10:19

 

Last read 00:00:20, hold time is 180, keepalive interval is 60 seconds

Minimum time between advertisement runs is 5 seconds

 

Received 331 messages, 0 notifications, 0 in queue

 

Sent 331 messages, 0 notifications, 0 in queue

 

Connections established 2; dropped 1

 

Connection state is ESTAB, I/O status: 1, unread input bytes: 0

 

Local host: 10.1.1.2, Local port: 179

 

Foreign host: 10.1.1.1, Foreign port: 11013

 

BGP neighbor is 10.2.1.2,  remote AS 2, external link

 

Index 0, Offset 0, Mask 0×0

 

BGP version 4, remote router ID 10.2.1.2

 

BGP state = Established, table version = 2, up for 00:10:19

 

Last read 00:00:15, hold time is 180, keepalive interval is 60 seconds

Minimum time between advertisement runs is 30 seconds

 

Received 229 messages, 0 notifications, 0 in queue

 

Sent 229 messages, 0 notifications, 0 in queue

 

Connections established 2; dropped 1

 

Connection state is ESTAB, I/O status: 1, unread input bytes: 0

 

Local host: 10.1.1.2, Local port: 179

 

Foreign host: 10.2.1.2, Foreign port: 11013

Jelas terlihat hasil konfigurasi pada table routing BGP dengan interval waktu 5 detik untuk IBGP sementara EBGP 30 detik seperti dicetak tebal. Sekarang kita perlu memodifikasi interval tersebut agar dapat berubah sesuai keinginan maupun traffic jaringan yang ada.

Router B

router bgp 1

 

neighbor 10.1.1.1 remote-as 1

 

neighbor 10.2.1.2 remote-as 2

 

neighbor 10.1.1.1 advertisement-interval 15

 

neighbor 10.2.1.2 advertisement-interval 45

Kita hanya perlu melakukan konfigurasi pada Router B, sementara untuk router lain konfigurasi routing protocol BGP default saja. Kemudian coba lakukan verifikasi terhadap Router B yang telah kita modifikasi.

RouterB#show ip bgp neighbors

BGP neighbor is 10.1.1.1,  remote AS 1, internal link

 

Index 0, Offset 0, Mask 0×0

 

BGP version 4, remote router ID 10.1.1.1

 

BGP state = Established, table version = 2, up for 00:10:19

 

Last read 00:00:20, hold time is 180, keepalive interval is 60 seconds

Minimum time between advertisement runs is 15 seconds

 

Received 331 messages, 0 notifications, 0 in queue

 

Sent 331 messages, 0 notifications, 0 in queue

 

Connections established 2; dropped 1

 

Connection state is ESTAB, I/O status: 1, unread input bytes: 0

 

Local host: 10.1.1.2, Local port: 179

 

Foreign host: 10.1.1.1, Foreign port: 11013

 

BGP neighbor is 10.2.1.2,  remote AS 2, external link

 

BGP version 4, remote router ID 10.2.1.2

 

BGP state = Established, table version = 2, up for 00:10:19

 

Last read 00:00:15, hold time is 180, keepalive interval is 60 seconds

Minimum time between advertisement runs is 45 seconds

 

Received 229 messages, 0 notifications, 0 in queue

 

Sent 229 messages, 0 notifications, 0 in queue

 

Connections established 2; dropped 1

 

Connection state is ESTAB, I/O status: 1, unread input bytes: 0

 

Local host: 10.1.1.2, Local port: 179

 

Foreign host: 10.2.1.2, Foreign port: 11013

Pada konfigurasi diatas jelas terlihat interval waktu yang telah disetting. Saran dan kritik sangat saya perlukan guna meningkatkan pemahaman mengenai teknologi routing protocol BGP. trimss

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.