Routing OSPF with Single and Multiple area
Menggunakan routing OSPF sebagai pengendali informasi – informasi routing suatu network sangat menguntungkan untuk diterapkan. pemakaian ospf dapat dimanage sehingga membentuk beberapa area kerja routing, hal ini akan sangat membantu dalam hal penanganan informasi yang diterima oleh masing – masing router dalam area kerja tersebut. Penyebaran packet – packet informasi routing akan teratur karena tiap – tiap area ospf memiliki sistem managemen tersendiri agar informasi yang ada tidak keluar ataupun masuk ke area lain begitu saja. Area ospf dapat dikategorikan menjadi dua bagian yakni single area network dan multiple area.
Sebelum penjelasan mengenai single dan multiple area saya memberikan sedikit penjelasan tentangan area backbone pada ospf. Area backbone sering disebut sebagai area 0 merupakan inti area routing pada ospf. Untuk area ini harus dimiliki oleh suatu network yang mana menerapkan sistem area routing ospf. Area 0 ini akan menjadi pusat koneksi antara router – router yang akan memperkenalkan informasi tabel routing kepada router – router tetangga (neighbor). Dengan area 0 tesebut akan
mengkomunikasikan area – area yang ada pada network ospf yang disebut nonzero area yakni area – area yang terdapat disekitar area 0 dan terkoneksi dengan area 0.
Kembali pada pembahasan single dan multiple area network. Single area network merupakan routing ospf yang hanya memiliki satu area network saja dan biasanya digunakan untuk area yang kecil hal ini diisebabkan karena jumlah router yang ada pada area network tersebut terbatas atau sedikit. Ketika menggunakan single area ini maka seluruh informasi routing akan disebar / flooded ke tiap – tiap router pada area tersebut. Single area ini dapat diidentifikasi denga angka antara 0 sampai 4,294,967,295
hal ini dimaksutkan untuk memudahkan pengenalan terhadap suatu area.
Gambar 2.1 Single Area OSPF Network
Biasanya untuk pemakaian area routing ospf normalnya menggunakan multiple area. Ketika memakai single area tidak memakai sistem summarization. Akan tetapi dengan multiple area akan mengijinkan
sistem hirarki dan scalable suatu network design. Menerapkan multiple area network ini area 0 harus diterapkan pada area tersebut serta harus terkoneksi. Area 0 akan berperan sebagai jembatan penyeberangan informasi – informasi routing ke area – area lainnya (nonzero area).
Gambar 2.2 Multiple Area OSPF Network
Masing – masing router pada gambar 2.2 saling terhubung ke area 0 dan terkoneksi dengan baik, sehingga area – area lainnya dapat bertukar informasi. Router – router tersebut tidak dikonfigurasikan menjadi paling utama, akan tetapi interface – interface router akan yang diutamakan dalam konfigurasi area – area network. Hal ini akan membuat area – area disekitar area 0 akan terkoneksi melalui salah satu interface pada router yang ada pada area 0. Seperti pada gambar diatas salah satu router memeliki
interface yang ternokesi ke area 51 dan interface lain terhubung ke area 0 maka akan terjadi koneksi antara 51 dengan area 0 melalui interface – interface tersebut.
Gambar 2.3 All nonzero area must be connected to area 0
Gambar diatas menerangkan bahwa area 1 terhubung ke area 0 melalui router C, router C yang memliki interface pada area 0 dan juga sebuah interface pada area 1. Area 51 juga terhubung ke area 0 melalui router B dengan sebuah interface pada area 0 dan sebuah interface pada area 51. Dengan interface – interface tersebut akan menghubungkan masing – masing area.
Gambar 2.4 Invalid OSPF Network
Area network pada gambar 2.4 merupakan area yang salah / invalid area. Dikarenakan area 0 tidak menjadi backbone pada network akan tetapi area 1 yang menjadi backbone area. Design seperti ini tidak dapat diterapkan pada pembentukan suatu area network sebab area 0 harus menjadi area backbone pada suatu area network, selain area 0 tidak diijinkan area – area lainnya menjadi area backbone. Seperti gambar 2.4 area 1 menjadi backbone serta area 0 sebagai nonzero area. Koneksi area 51 dengan area 0 tidak ada yang membuat komunikasi dengan area 0 ini tidak dapat dilakukan .
Pengklasifikasian area – area pada routing ospf ini sangat membantu pada troubleshout suatu area network serta akan mempermudah dalam penganganan konfigurasi – konfigurasi jaringan yang mana menerapkan sistem routing ospf.
Windows Seven next generation from Vista
Windows Vista baru saja masuk di Indonesia dan mulai diterima oleh masyarakat tapi hal itu tampaknya belum cukup memuaskan Microsoft sebagai pengembang Operating System ( OS ) untuk kembali membuat gebrakan baru yaitu dengan mengembangkan Windows Seven , OS ini rencananya akan di plot sebagai penerus OS Windows Vista.
Windows 7 merupakan sistem operasi teranyar Microsoft yang diposisikan sebagai suksesor Vista. Windows 7 juga dikenal dengan nama kode Vienna, dari sebelumnya yang bernama kode B
Berikut cuplikan screenshot OS Windows 7 versi M3 Build 6780 yang diambil dari Blog ThinkNext.net. Dalam screenshot ini akan dibeberkan beberapa gambar diantaranya memperlihatkan berbagai aspek tampilan Windows 7 mulai dari Start Menu, Control Panel, Media Player dan tentunya halaman error Windows 7.
Wellcome Center
Desktop Gadgets
Start Menu
Windows PowerShell
Display Properties
Beberapa minggu lalu beberapa orang petinggi Microsoft telah mengatakan bahwa mereka akan merilis informasi teknis mendetil di Professional Developers Conference atau WinHEC dalam beberapa minggu ke depan ini. Mereka juga mengatakan bahwa versi beta Windows 7 akan dikeluarkan di bulan Desember, dengan versi finalnya di pertengahan tahun 2009 dan mulai dipasarkan 2010. Tetapi sejak saat itu masih belum ada lagi berita tentang Windows 7, hingga Microsoft merilis detil lebih lanjut dalam beberapa minggu mendatang ini, kita harus puas dengan beberapa screenshot di bawah ini. (via Cnet, tips dari aerialsky)
Microsoft masih pelit memberikan infonya, tapi satu fitur yang telah dibeberkan hanyalah interface multi touch di Windows 7. Dalam demonya, Corporate VP Microsoft Larson-Green menggambar dengan beberapa jarinya secara bersamaan untuk menunjukkan teknologi itu tak hanya bisa memproses sentuhan tapi beberapa inputan secara simultan.
Seperti yang dikutip penjelasan Bill Veghte maka rencananya Windows 7 akan diluncurkan bulan Januari 2010. “Kami yakin produk terbaru kami akan sangat bagus. Kami memiliki komitmen dan portfolio. Oleh karena itu Windows 7 akan diluncurkan sesuai target, tiga tahun setelah Windows terakhir muncul,” ujar Kepala unit bisnis Windows Bill Veghte, seperti dilansir melalui Cnet, Jumat (25/7/2008).
Veghte berjanji bahwa software baru Windows tersebut akan secepatnya diselesaikan. Tepatnya, akan selesai pada Desember 2009 sehingga pada awal 2010 sudah bisa dipasarkan. Mirosoft memang berkomitmen untuk selalu menelurkan versi update Windows setiap tiga tahun sekali. Seri Windows terakhir kemarin diisi dengan seri Windows Vista.
Menurut Veghte, perubahan besar-besaran yang akan mendominasi sistem operasi milik Microsoft tersebut adalah dilengkapinya Windows 7 dengan tampilan penggunaan yang multitouch.
Copyright ThinkNext.net 18-oktober-2008 (ilmugrafis.com)
Redistribute Protocol Routing pada BGP (Border Gateway Protocol)
Routing BGP berfungsi untuk mengkoneksikan antara network – network address yang berbeda AS(Autonomous System)nya sehingga dapat terkoneksi. Protocol – protocol routing lainnya pada routing IGP(Internal Gateway Protocol) dapat dihubungkan kedalam routing BGP dalam hal ini routing IBGP yang akan menghandle routing – routing pada suatu AS. Routing IGP yang dimaksut diatas antara lain RIP, OSPF, IGRP, dan EIGRP maupun routing protocol lainnya. Misalnya protocol routing static, default routing, IS-IS,
dan juga routing EGP yang ada. Tujuan utama redistribute routing pada BGP adalah untuk memperkenal routing protocol non-BGP ke routing BGP itu sendiri.
Untuk lebih jelasnya saya akan memberikan salah satu contoh mengenai redistribute routing pada BGP sekaligus dengan konfigurasi masing – masing router sehingga dapat mengkomunikasikan protocol non-BGP ke routing BGP agar dapat lebih mudah dimengerti. Pada contoh ini saya akan mengambil protocol EIGRP agar dapat dibaca oleh routing BGP. Perhatikan gambar dibawah ini.
Gambar diatas menjelaskan bahwa router C ingin mengenalkan network address 172.16.2.0/24 dan network address 172.16.3.0/24 melalui protocol routing EIGRP. Yang mana antara router A dan router B
memliki koneksi routing BGP sehingga tidak mempunyai kendala untuk berhubungan, akan tetapi pada router C memiliki routing EIGRP dan tidak dapat berhungan secara langsung ke routing BGP. Untuk itu
diperlukan settingan pada router BGP agar dapat menerima routing EIGRP dari luar routing BGP maka BGP akan menggunakan redistribute protocol – protocol routing di luar BGP. Redistribute ini dilakukan
agar router A dapat menerima dan mengetahui network address yang ada pada router C dengan protocol routing diluar BGP.
Router A
interface loopback 0
ip address 172.16.0.1 255.255.255.0
!
interface loopback 1
ip address 172.16.1.1 255.255.255.0
!
router bgp 1
network 172.17.1.0 mask 255.255.255.0
neighbor 172.17.1.1 remote-as 2
Router B
router eigrp 1
network 10.0.0.0
network 172.17.0.0
no auto-summary
!
router bgp 2
network 10.1.0.0 mask 255.255.255.252
network 172.17.1.0 mask 255.255.255.0
neighbor 172.17.1.2 remote-as 1
!
ip route 172.16.4.0 255.255.255.0 s2/0
Router C
interface loopback 0
ip address 172.16.2.1 255.255.255.0
!
interface loopback 1
ip address 172.16.3.1 255.255.255.0
!
router eigrp 1
network 172.16.0.0
network 10.0.0.0
no auto-summary
Masing – masing router telah dikonfigurasi sesuai dengan network – network yang ada pada tabel routing tiap router. Sebelum melakukan konfigurasi redistribute routing BGP ada baiknya melakukan pemeriksaan terhadap tabel routing maupun tabel routing BGP agar dapat mengetahui network dan metric yang ada pada suatu router BGP. Maka untuk mengetahui hal tersebut dapat dilakukan dengan command
show ip route atau show ip bgp .
rtrB#show ip route
Codes: C – connected, S – static, I – IGRP, R – RIP, M – mobile, B – BGP
D – EIGRP, EX – EIGRP external, O – OSPF, IA – OSPF inter area
N1 – OSPF NSSA external type 1, N2 – OSPF NSSA external type 2
E1 – OSPF external type 1, E2 – OSPF external type 2, E – EGP
i – IS-IS, L1 – IS-IS level-1, L2 – IS-IS level-2, ia – IS-IS inter area
* – candidate default, U – per-user static route, o – ODR
P – periodic downloaded static route
Gateway of last resort is not set
172.17.0.0/24 is subnetted, 1 subnets
C 172.17.1.0 is directly connected, Ethernet0/0
172.16.0.0/24 is subnetted, 3 subnets
S 172.16.4.0 is directly connected, Serial2/0
D 172.16.2.0 [90/1889792] via 10.1.1.2, 00:26:32, Serial2/0
D 172.16.3.0 [90/1889792] via 10.1.1.2, 00:26:32, Serial2/0
10.0.0.0/30 is subnetted, 1 subnets
C 10.1.1.0 is directly connected, Serial2/0
rtrB#show ip bgp
BGP table version is 3, local router ID is 172.17.1.1
Status codes: s suppressed, d damped, h history, * valid, > best, i – internal
Origin codes: i – IGP, e – EGP, ? – incomplete
Network Next Hop Metric LocPrf Weight Path
*> 10.1.1.0/30 0.0.0.0 0 32768 i
* 172.17.1.0/24 172.17.1.2 0 0 1 i
*> 0.0.0.0 0 32768 i
rtrA#show ip route
Codes: C – connected, S – static, I – IGRP, R – RIP, M – mobile, B – BGP
D – EIGRP, EX – EIGRP external, O – OSPF, IA – OSPF inter area
N1 – OSPF NSSA external type 1, N2 – OSPF NSSA external type 2
E1 – OSPF external type 1, E2 – OSPF external type 2, E – EGP
i – IS-IS, L1 – IS-IS level-1, L2 – IS-IS level-2, ia – IS-IS inter area
* – candidate default, U – per-user static route, o – ODR
P – periodic downloaded static route
Gateway of last resort is not set
172.17.0.0/24 is subnetted, 1 subnets
C 172.17.1.0 is directly connected, FastEthernet0
172.16.0.0/24 is subnetted, 2 subnets
C 172.16.0.0 is directly connected, Loopback0
C 172.16.1.0 is directly connected, Loopback1
10.0.0.0/30 is subnetted, 1 subnets
B 10.1.1.0 [20/0] via 172.17.1.1, 00:25:38
rtrA#show ip bgp
BGP table version is 4, local router ID is 172.16.1.1
Status codes: s suppressed, d damped, h history, * valid, > best, i – internal
Origin codes: i – IGP, e – EGP, ? – incomplete
Network Next Hop Metric LocPrf Weight Path
*> 10.1.1.0/30 172.17.1.1 0 0 2 i
*> 172.17.1.0/24 0.0.0.0 0 32768 i
* 172.17.1.1 0 0 2 i
Dari hasil tabel routing pada tiap – tiap router dapat diambil kesimpulan bahwa nilai metric terbaca oleh router B adalah 1889792. Hal ini disebabkan oleh bentuk redistribute yang dipergunakan dalam hal ini tidak memiliki nilai metric. Router C menggunakan metric EIGRP sebagai penghubung ke routing BGP.
Untuk itu diperlukan perubahan konfigurasi pada router A dan router B agar dapat menerima metric EIGRP tersebut.
Router A
router bgp 1
network 172.17.1.0 mask 255.255.255.0
redistribute connected
neighbor 172.17.1.1 remote-as 2
Router B
router bgp 1
network 10.1.0.0 mask 255.255.255.0
network 172.17.1.0 mask 255.255.255.0
redistribute static
redistribute eigrp 1
neighbor 172.17.1.2 remote-as 2
Sekarang saatnya melakukan ujicoba terhadap router – router diatas apakah bekerja sesuai prinsip redistribute routing BGP.
rtrA#show ip bgp
BGP table version is 8, local router ID is 172.17.1.1
Status codes: s suppressed, d damped, h history, * valid, > best, i – internal
Origin codes: i – IGP, e – EGP, ? – incomplete
Network Next Hop Metric LocPrf Weight Path
*> 10.0.0.0 0.0.0.0 0 32768 ?
*> 10.1.1.0/30 0.0.0.0 0 32768 i
*> 172.16.0.0 0.0.0.0 0 32768 ?
* 172.17.1.2 0 0 1 ?
*> 172.17.0.0 172.17.1.2 0 0 1 ?
*> 172.17.1.0/24 0.0.0.0 0 32768 i
* 172.17.1.2 0 0 1 i
rtrB#show ip bgp
BGP table version is 19, local router ID is 172.16.1.1
Status codes: s suppressed, d damped, h history, * valid, > best, i – internal
Origin codes: i – IGP, e – EGP, ? – incomplete
Network Next Hop Metric LocPrf Weight Path
*> 10.0.0.0 172.17.1.1 0 0 2 ?
*> 10.1.1.0/30 172.17.1.1 0 0 2 i
* 172.16.0.0 172.17.1.1 0 0 2 ?
*> 0.0.0.0 0 32768 ?
*> 172.17.0.0 0.0.0.0 0 32768 ?
* 172.17.1.0/24 172.17.1.1 0 0 2 i
*> 0.0.0.0 0 32768 i














