Analisis Routing External pada EBGP
Lagi iseng – iseng buatin artikel routing protocol, kebetulan aj hari ini lagi punya ide untuk ngembangin artikel diblog giat501. Soalnya sebelumnya males banget nulis artikel ( … mungkin lagi asik – asik nya liatin junior2 baru, abis cakep – cakep cew nya ….
akhirnya muncul dech ide – ide baru ngelanjutin perjuangan nulis artikel. Nikmati ya dan kalo gak ngerti tanyakan aj, mudah – mudahan bisa kejawab pertanyaannya ….
Routing external merupakan koneksi yang terjadi pada routing – routing protocol berbeda nomor AS(Autonomous System). Pada pembahasan sebelum ini telah dijelaskan tentang AS merupakan system penamaan yang khusus pada suatu area tertentu (perusahaan/instansi besar) memiliki aturan tersendiri dan berbeda dengan area lainnya. Pembahasan kali ini akan menjelaskan analisis antara dua area dengan nomor AS tidak sama. Seperti gambar berikut :
Pada gambar menjelaskan koneksi antara kedua routing internal dimana routing IGP dikonfigurasi oleh protocol routing OSPF. Dalam hal ini menerangkan koneksi anatara kedua area/lokasi yang berbeda nomor AS-nya masing -masing area memiliki aturan dan otoritas sendiri. Hal tersebut membuat antara kedua nomor AS tidak dapat terjadi komunikasi, untuk itu dibutuhkan suatu ruting protocol melakukan koneksi antara nomor AS beerbeda.
Seperti telah diketahui bahwa routing internal (IGP) suatu routing protocol melakukan koneksi anatara nomor AS sama misalnya OSPF, EIGRP, RIP dll. Sedangkan routing External (EGP), routing protocol untuk koneksi nomor AS berbeda. Untuk dapat melakukan koneksi jaringan pada gambar diatas dibutuhkan routing external BGP. Dalam hal ini BGP terbagi menjadi dua yakni IBGP dan EBGP, kedua routing protocol tersebut memilki karakteristik berbeda walaupun masih pada routing BGP. Routing IBGP dipakai pada koneksi BGP hanya sebagai routing internal pada area AS yang sama, artinya pemakaian routing IGP pada area BGP dapat dilakukan. Hal tersebut terjadi karena routing IBGP merupakan koneksi antara jaringan local pada satu nomor AS tertentu yang akan melakukan koneksi dengan jaringan luar melalui EBGP. Akan tetapi routing IGP dengan IBGP tidaklah sama, sebab protocol IBPG memiliki aturan tersendiri dan berbeda dari protocol – protocol routing IGP lainnya. Untuk itu sangat dibutuhakan pemahaman yang baik agar dapat mengerti tentang BGP (tidak dijelaskan pada pembahasan ini).
EBPG diperlukan pada kondisi ini sebagai koneksi dengan jaringan berbeda nomor AS atau tetangganya. Agar terjadi komukasi antara kedua area jaringan tersebut diperlukan routing EBGP. IBGP akan memperkenalkan network – network mana saja akan di kenalkan dengan tetangganya(nomor AS lain), Kemudian EBGP menyampaikan pesan dari jaringan yang akan dikenalkan tersebut (istilahnya Advertise). Setelah EBGP menyampaikan pesan tersebut, jaringan tetangga akan menerima advertise tersebut dan mencoba untuk melakukan advertise ulang terhadap network – network pada jaringan yang dimilkinya. Artinya tiap – tiap nomor AS akan saling memperkenalkan network – network apasaja ada pada area jaringannya.
Setelah komunikasi terjadi BGP akan bertanggung jawab atas traffic – traffic jaringan antara kedua AS. Management baik sangat diperlukan pada routing BGP karena sedikit salah akan membuat routing tabel berubah, hal tersebut membedakan BGP terhadap protocol – protocol lainnya. Akan tetapi protocol BGP memberikan keleluasaan pada kita untuk memanage routing tersebut dan perlu pemahaman khusus untuk routing BGP. Router BGP mempunyai atibute dan memrupakan inti pada routing BGP. Settingan pada atribute yang baik akan membuat komunikasi antar AS bekerja dengan bagus.
Routing BGP sangat dibutuhkan pada topologi jaringan seperti pada gambar yang akan memgkoneksikan lebih dari satu nomor AS. Hal ini merupakan implementasi terhadap jaringan Internet. Peran BGP sebagai routing protocol untuk Internet sangatlah berarti dan dapat dikatakan BGP sebagai inti dari Internet. saya tidak membahas secara detail BGP inti Internet silahkan tunggu artikel selanjutnya mengenai routing BGP pada Internet. ^_^
Aggregate Local Route BGP
Pada pembahasan sebelum nya telah dijelaskan cara konfigurasi interval waktu pada routing BGP khususnya routing IBGP dan EBGP. Kali ini akan dibahas konfigurasi aggregate local route yakni route – route pada router bgp. Seperti pada gambar terdapat beberapa address route akan dikenalkan ke router tetangganya (Neighbor),.

Pada gambar tersebut terdapat beberapa address route yang di advertise, yakni Router B memliki network address route empat network address. Agar dapat diminimalisasikan penggunaan network address tersebut kita memkai sistem aggreate network address yang disediakan oleh konfigurasi router BGP. Sebelum melakukan konfigurasi aggregate tersebut, terlebih dahulu lakukan konfigurasi tabel route pada kedua router BGP agar dapat saling berkomukasi dengan router tentangganya.
Router A
router bgp 1
neighbor 10.1.1.2 remote-as 2
Router B
interface loopback 0
ip address 172.16.0.1 255.255.255.0
!
interface loopback 1
ip address 172.16.1.1 255.255.255.0
!
interface loopback 2
ip address 172.16.2.1 255.255.255.0
!
interface loopback 3
ip address 172.16.3.1 255.255.255.0
!
router bgp 2
network 172.16.0.0 mask 255.255.255.0
network 172.16.1.0 mask 255.255.255.0
network 172.16.2.0 mask 255.255.255.0
network 172.16.3.0 mask 255.255.255.0
neighbor 10.1.1.1 remote-as 1
!
Keempat network address pada interface loopback yang menjadi interface simulasi dari percobaan diatas telah dikonfigurasi. Router A dan router B telah terjalin hubungan yang dapat kita lihat pada routing tabel masing – masing.
Router A
routerA#show ip bgp
BGP table version is 16, local router ID is 172.17.1.1
Status codes: s suppressed, d damped, h history, * valid, > best, i – internal
Origin codes: i – IGP, e – EGP, ? – incomplete
Network Next Hop Metric LocPrf Weight Path
*> 172.16.0.0/24 10.1.1.2 0 0 2 i
*> 172.16.1.0/24 10.1.1.2 0 0 2 i
*> 172.16.2.0/24 10.1.1.2 0 0 2 i
*> 172.16.3.0/24 10.1.1.2 0 0 2 i
Router B
routerB#show ip bgp
BGP table version is 6, local router ID is 172.16.3.1
Status codes: s suppressed, d damped, h history, * valid, > best, i – internal
Origin codes: i – IGP, e – EGP, ? – incomplete
Network Next Hop Metric LocPrf Weight Path
*> 172.16.0.0/24 0.0.0.0 0 32768 i
*> 172.16.1.0/24 0.0.0.0 0 32768 i
*> 172.16.2.0/24 0.0.0.0 0 32768 i
*> 172.16.3.0/24 0.0.0.0 0 32768 i
Pada tabel routing diatas jelas terlihat hasil konfigurasi antara kedua router. Seperti pada penjelasan diatas tujuan konfigurasi yang kita lakukan yakni memperkenalkan network aggregate pada router tetangga. Untuk itu perhatikan konfigurasi berikut ditujukan untuk pada router B yang memiliki empat network address.
Router B
router bgp 2
network 172.16.0.0 mask 255.255.255.0
network 172.16.1.0 mask 255.255.255.0
network 172.16.2.0 mask 255.255.255.0
network 172.16.3.0 mask 255.255.255.0
aggregate-address 172.16.0.0 255.255.252.0
neighbor 10.1.1.1 remote-as 1
Konfigurasi diatas seperti dicetak warna biru terlihat aggregate network dengan subnet 255.255.252.0 mewakili keempat network address sebelumnya dengan subnet 255.255.255.0. Dengan subnet 255.255.252.0 akan lebih sederhana. Dapat telihat pada tabel routing seperti dibawah :
routerA#show ip bgp
BGP table version is 18, local router ID is 172.17.1.1
Status codes: s suppressed, d damped, h history, * valid, > best, i – internal
Origin codes: i – IGP, e – EGP, ? – incomplete
Network Next Hop Metric LocPrf Weight Path
*> 172.16.0.0/24 10.1.1.2 0 0 2 i
*> 172.16.0.0/22 10.1.1.2 0 2 i
*> 172.16.1.0/24 10.1.1.2 0 0 2 i
*> 172.16.2.0/24 10.1.1.2 0 0 2 i
*> 172.16.3.0/24 10.1.1.2 0 0 2 I
routerB#show ip bgp
BGP table version is 8, local router ID is 172.16.3.1
Status codes: s suppressed, d damped, h history, * valid, > best, i – internal
Origin codes: i – IGP, e – EGP, ? – incomplete
Network Next Hop Metric LocPrf Weight Path
*> 172.16.0.0/24 0.0.0.0 0 32768 i
*> 172.16.0.0/22 0.0.0.0 32768 i
*> 172.16.1.0/24 0.0.0.0 0 32768 i
*> 172.16.2.0/24 0.0.0.0 0 32768 i
*> 172.16.3.0/24 0.0.0.0 0 32768 i
Konfigurasi network aggreagate diatas merupakan salah satu atribut pada router BGP yakni Atomic – aggregate dimana konfigurasi yang dilakukan sebelumnya akan hilang/lost. Untuk itu dibutuhkan ketelitian pada konfigurasi routing tabel router BGP. Untuk kasus ini kita dapat menggunakan 16 bit mask yakni dengan subnet 255.255.0.0
Router B
router bgp 2
network 172.16.0.0 mask 255.255.255.0
network 172.16.1.0 mask 255.255.255.0
network 172.16.2.0 mask 255.255.255.0
network 172.16.3.0 mask 255.255.255.0
aggregate-address 172.16.0.0 255.255.0.0
neighbor 10.1.1.1 remote-as 1
routerA#show ip route
Codes: C – connected, S – static, I – IGRP, R – RIP, M – mobile, B – BGP
D – EIGRP, EX – EIGRP external, O – OSPF, IA – OSPF inter area
N1 – OSPF NSSA external type 1, N2 – OSPF NSSA external type 2
E1 – OSPF external type 1, E2 – OSPF external type 2, E – EGP
i – IS-IS, L1 – IS-IS level-1, L2 – IS-IS level-2, * – candidate default
U – per-user static route, o – ODR
Gateway of last resort is not set
1.0.0.0/32 is subnetted, 1 subnets
C 1.1.1.1 is directly connected, Loopback0
172.16.0.0/16 is variably subnetted, 5 subnets, 2 masks
B 172.16.0.0/16 [200/0] via 0.0.0.0, 00:03:01, Null0
C 172.16.0.0/24 is directly connected, Loopback1
C 172.16.1.0/24 is directly connected, Loopback2
C 172.16.2.0/24 is directly connected, Loopback3
C 172.16.3.0/24 is directly connected, Loopback4
10.0.0.0/30 is subnetted, 1 subnets
C 10.1.1.0 is directly connected, Serial0
Terlihat hasil pada tabel routing yang tadinya hilang telah dikonfigurasi ulang untuk mendapat tabel routing lengkap. Apabila masih kurang jelas atau mengerti boleh ditanyakan pada yang bersangkutan, seperti pepatah mengatakan “malu bertanya sesat dijalan“
OpenSource Universitas Sumatera Utara (USU)
Memperhatikan perkembangan opensource sekarang berarti juga perkembangan system operasi Linux. Untuk sekarang system operasi Linux mengalami perkembangan begitu meyakinkan terlihat dari begitu banyaknya komunitas – komunitas pecinta Linux. Salah satu alasan Linux lebih cepat diterima di kalangan masyarakat adalah system software nya yang opensource . Tidak seperti Sistem Operasi Windows yang comersil dan diperdagangkan hal tersebut membuat banyak kalangan tertentu mengkopi file windows dan dijadikan sebagai versi bajakan yang tidak original.Hal tersebut banyak sekali kita jumpai di negeri ini.
Sistem operasi Linux telah merambah ke berbagai kalangan muda khususnya mahasiswa dan para pelajar sekolah tingkat atas. Kemudahan dalam penggunaan linux menjadi alternatif pemakaian system operasi tersebut disamping system operasi yang gratis. Source code Linux dapat di modifikasi dan dikembangkan oleh developer – developer tertentu dan hal tersebut membuat begitu banyak distribusi(distro) Linux sekarang. Dan hampir tiap distro – distro linux memiliki komunitas sendiri yang dapat bertukar informasi seputar distro yang pergunakan.
Salah satu instansi pendidikan yang mulai memakai system operasi Linux yakni Universitas Sumatera Utara (USU). USU mulai beralih kesistem operasi opensource hal tersebut dilakukan mengingat mulai banyak aksi sweeping guna merazia software – software bajakan yang dilakukan oleh aparat terkait. Pemakaian system operasi linux pada universitas sumatera utara sudah di mulai sejak tahun 2000 akan tetapi mulai diminati pada tahun 2004. Sampai sekarang pemakai linux untuk kampus USU sudah mulai banyak hal tersebut terlihat berdirinya suatu pusat komputerisasi berbasis linux, dan distro linux yang dipergunakan yakni fedora 5.0.
Di USU sendiri terdapat suatu kampus yang banyak memakai system operasi linux (Ubuntu). Kampus Ilmu Komputer S-1 USU merupakan kampus yang telah lama memakai system operasi linux akan tetapi sekarang mengalami perkembangan begitu cepat. Kebanyakan mahasiswa telah mengenal dan memakai linux sebagai system operasi walaupun pemakaiannya masih Dual-Boot paling tidak pengenalan linux sudah mulai dirasakan oleh orang – orang yang belum pernah merasakan sama sekali.
Sering sekali saya perhatikan linux dipakai sebagai pengganti windows yang telah mendarah daging sejak dulu. Pemakaian Linux lebih ditujukan sebagai riset maupun praktek guna mendalami system networking. Seperti kita tahu Sistem Operasi Linux dikenal sebagai system operasi yang handal dimana tingkat sekuritas terjamin. Pemakaian distro ubuntu diperlukan karena ubuntu mudah dioperasikan dan lebih bersahabat. Seperti diketahui salah satu hal membuat linux sulit diterima oleh masyarakat luas sulit untuk mengoperasikan. Terlalu banyak konfigurasi yang harus dilakukan pada suatu aplikasi. Tidak sebaliknya dengan distro yang ini(ubuntu).
Dengan berbagai aplikasi yang terdapat pada linux membuat system operasi ini mulai diperhitungkan sebagai system operasi alternative pengganti system operasi windows. Begitu banyaknya aplikasi – aplikasi pada linux, sehingga aplikasi yang ada pada windows dapat dijalankan di Linux.
Kembali ke USU, pemakaian linux mulai diterima oleh mahasiswa – mahasiswa lain seiring perkembangan dunia informasi tidak terkecuali mahasiswa dari fakultas – fakultas lain memakai sistem operasi linux sebagai pengganti sistem operasi yang selama ini banyak dipergunakan. Mudah – mudahan dengan pemakaian Linux pada Universitas USU dapat menjadi inspirasi ke universitas – universitas lainnya. go opensource …..
Advertisement Intervals IBGP & EBGP
Tujuan melakukan konfigurasi interval waktu pada sesi routing IBGP(Interior Border Gateway Protocol) dan EBGP(Exterior Border Gateway Protocol) antara lain untuk memperoleh waktu terbaik guna mencapai path terbaik akan tetapi jika interval tidak di set, maka interval waktu akan memakai nilai default nya yakni 5 detik IBGP sedangkan EBGP 5 detik hal ini dilakukan untuk menjaga koneksi antar sesama neighbors pada nomor AS yang berbeda. Dibawah ini akan diberikan salah satu contoh konfigurasi routing protocol BGP yang membahas mengenai interval waktu advertisement untuk IBGP dan EBGP

Dari contoh pada gambar diperlihatkan interval waktu IBGP 5 detik kemudian interval untuk EBGP 30 detik.
Kita akan melakukan settingan merubah interval waktu agar jadi lebih lama. Untuk itu ikuti langkah-langkah berikut. Sebelum melakukan verifikasi pada interval waktu routing BGP, terlebih dulu kita setting
konfigurasi protocol routing BGP agar dapat berhubungan dengan routing tetangganya.
Router A
router bgp 1
neighbor 10.1.1.2 remote-as 1
Router B
router bgp 1
neighbor 10.1.1.1 remote-as 1
neighbor 10.2.1.2 remote-as 2
Router C
router bgp 2
neighbor 10.2.1.1 remote-as 1
Setelah konfigurasi selesai coba lakukan pengujian dan verifikasi terhadap routing yang telah dibuat dengan command show ip route, show ip bgp.
RouterB#show ip bgp neighbors
BGP neighbor is 10.1.1.1, remote AS 1, internal link
Index 0, Offset 0, Mask 0×0
BGP version 4, remote router ID 10.1.1.1
BGP state = Established, table version = 2, up for 00:10:19
Last read 00:00:20, hold time is 180, keepalive interval is 60 seconds
Minimum time between advertisement runs is 5 seconds
Received 331 messages, 0 notifications, 0 in queue
Sent 331 messages, 0 notifications, 0 in queue
Connections established 2; dropped 1
Connection state is ESTAB, I/O status: 1, unread input bytes: 0
Local host: 10.1.1.2, Local port: 179
Foreign host: 10.1.1.1, Foreign port: 11013
BGP neighbor is 10.2.1.2, remote AS 2, external link
Index 0, Offset 0, Mask 0×0
BGP version 4, remote router ID 10.2.1.2
BGP state = Established, table version = 2, up for 00:10:19
Last read 00:00:15, hold time is 180, keepalive interval is 60 seconds
Minimum time between advertisement runs is 30 seconds
Received 229 messages, 0 notifications, 0 in queue
Sent 229 messages, 0 notifications, 0 in queue
Connections established 2; dropped 1
Connection state is ESTAB, I/O status: 1, unread input bytes: 0
Local host: 10.1.1.2, Local port: 179
Foreign host: 10.2.1.2, Foreign port: 11013
Jelas terlihat hasil konfigurasi pada table routing BGP dengan interval waktu 5 detik untuk IBGP sementara EBGP 30 detik seperti dicetak tebal. Sekarang kita perlu memodifikasi interval tersebut agar dapat berubah sesuai keinginan maupun traffic jaringan yang ada.
Router B
router bgp 1
neighbor 10.1.1.1 remote-as 1
neighbor 10.2.1.2 remote-as 2
neighbor 10.1.1.1 advertisement-interval 15
neighbor 10.2.1.2 advertisement-interval 45
Kita hanya perlu melakukan konfigurasi pada Router B, sementara untuk router lain konfigurasi routing protocol BGP default saja. Kemudian coba lakukan verifikasi terhadap Router B yang telah kita modifikasi.
RouterB#show ip bgp neighbors
BGP neighbor is 10.1.1.1, remote AS 1, internal link
Index 0, Offset 0, Mask 0×0
BGP version 4, remote router ID 10.1.1.1
BGP state = Established, table version = 2, up for 00:10:19
Last read 00:00:20, hold time is 180, keepalive interval is 60 seconds
Minimum time between advertisement runs is 15 seconds
Received 331 messages, 0 notifications, 0 in queue
Sent 331 messages, 0 notifications, 0 in queue
Connections established 2; dropped 1
Connection state is ESTAB, I/O status: 1, unread input bytes: 0
Local host: 10.1.1.2, Local port: 179
Foreign host: 10.1.1.1, Foreign port: 11013
BGP neighbor is 10.2.1.2, remote AS 2, external link
BGP version 4, remote router ID 10.2.1.2
BGP state = Established, table version = 2, up for 00:10:19
Last read 00:00:15, hold time is 180, keepalive interval is 60 seconds
Minimum time between advertisement runs is 45 seconds
Received 229 messages, 0 notifications, 0 in queue
Sent 229 messages, 0 notifications, 0 in queue
Connections established 2; dropped 1
Connection state is ESTAB, I/O status: 1, unread input bytes: 0
Local host: 10.1.1.2, Local port: 179
Foreign host: 10.2.1.2, Foreign port: 11013
Pada konfigurasi diatas jelas terlihat interval waktu yang telah disetting. Saran dan kritik sangat saya perlukan guna meningkatkan pemahaman mengenai teknologi routing protocol BGP. trimss
Free and OpenSource
Mendengar kata Free and OpenSource pastilah kita tahu sebagai suatu software maupun apalikasi yang bebas tidak bersifat comersil. Akan tetapi tidaklah sebaliknya pada perusahaan – perusahaan besar bergerak untuk opensource seperti Perusahaan pencetus sistem operasi Linux dan Sun Microsystem dengan sistem operasinya Solaris. Linux dan Solaris merupakan sistem operasi yang opensource, sebaliknya Windows miliknya Microsoft bersifat comersil yakni suatu lisensi yang harus dibayar apabila ingin memiliki aplikasi atau software keluaran Microsoft.
Linux dan Solaris dengan bergabagai produk free akan tetapi dengan lisensi yang berbeda – beda. Kebanyakan para pemakai produk opensource kadang dibuat bingun akan hal tersebut. Jika Linux memakai lisensi GPL(General Public Lisence) sedangkan Solaris memakai lissensi CDDL(Common Development and Distribution License). Banyak orang berpendapat lebih menyukai lisensi CDDL karena disamping mempraktekkan dan mengembangkan intelektual kedalamnya kita juga dapat memperoleh penghasil dari hal tersebut yang artinya kita dapat menyerbarluaskan penemuan kita peroleh serta memasarkan kepada masyarakat luas. Hal tersebut terjadi pada negara India yang memperbolehkan negara(masyarakatnya) mengembangkan ide – ide baru pada produk Sistem operasi Solaris.
Sebaliknya untuk sistem operasi linux dengan lisensi GPL tidak jauh berbeda dengan lisensi CDDL. GPL juga lisensi dengan kebebasan pemakaian produk yang dihasilkannya . Akan tetapi kebijakan tiap – tiap vendor pembuat lisensi tersebut yang jadi acuan sebenarnya untuk suatu lisensi.
Sebagai suatu pendapat menyatakan bahwa Sun merelease CDDL adalah suatu tindakan penghargaan kepada para developer – developer/pengembang software dan aplikasi Solaris karena developer merasa dihargai dengan adanya royalti karena dapat merubah lisensi hasil karya mereka. Dengan berbagai perbedaan yang ada pada GPL maupun CDDL maka para pemerhati maupun praktisi IT perlu mempertimbangkan dalam pemakai Sistem Operasi, software maupun aplikasi yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan dalam hal perusahaan opensource.
Dengan info diatas mudah – mudahan dapat membuka wawasan anda akan pernyataan mengenai opensource yang sekarang ini sedang hangat – hangatnya dibicarakan terutama para pengguna sistem operasi Linux dan Solaris
HUT RI 2008
Tidak terasa 63 tahun sudah indonesia merdeka terbebas dari penjajahan berabad-abad lamanya, dengan begitu beragamnya permasalahan – permasalahan dialami oleh bangsa ini. Tetapi dari berbagai permasalahan yang terjadi dalam tahun – tahun lalu, kita dapat belajar, introspeksi diri dan memperbaikinya agar ditahun kedepan lebih mapan baik dalam bidang keamanan, kesejahteraan masyarakat nya maupun bidang pendidikan. Seperti diketahui bahwa indonesia masih termaksut dalam kategori negara berkembang dan belum sanggup untuk memajukan teknologi. Padahal SDM(Sumber Daya Manusia) dan SDA(Sumber Daya Alam) indonesia tidaklah terlalu buruk jika dibanding dengan negara – negara lain. Kalau kita perhatikan jumlah penduduk indonesia menduduki 5 besar dunia akan menjadi modal yang cukup untuk mencari dan mengembangkan pendidikan indonesia selain itu indonesia ditopang akan kekayaan alam yang melimpah baik itu kekayaan darat maupun laut.
Apabila melihat keadaan diatas sudah selayaknya bangsa kita masuk dalam jajaran negara – negara dengan teknologi maju, akan tetapi tidaklah sebaliknya terjadi. Kesengsaraan, penderitaan, kemiskinan maupun pengangguran yang kita nikmati. Salah satu hal adalah kenaikan harga bahan bakar minyak(BBM). Dengan kenaikan harga BBM, harga kebutahan pokok melonjak ikut mengalami kenaikan. Masyarakat menjadi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari. Walaupun demikian setidaknya pendapatan/gaji bertambah, tetapi tidak sebaliknya gaji diterima paspasan. hal tersebut membuat banyak masyarakat indonesia mengeluh akan tindakan pemerintah, memprotes . Seperti belakangan ini banyak terjadi demonstrasi oleh mahasiswa pada beberapa daerah di indonesia menutut untuk diturunkannya harga BBM. Tindakan pemerihtah tersebut sangat menyengsarakan rakyat indonesia. Disamping kenaikan harga BBM, tindakan – tindakan kurang terpuji juga dipraktekkan aparat pemerintah indonesia menjadi sorotan masyarkat kita. Praktek – praktek korupsi dilakukan oleh pejabat negara ditengah kesulitan – kesulitan ekonomi membuat semakin terpuruk nya bangsa kita.
Tingkat kemiskinan semakin bertambah sejalan dengan bertabahnya usia bangsa Indonesia yang ada hanyalah penganguran terjadi diberbagai daerah, kejahatan terjadi dimana – mana, bencana datang silih berganti di setiap tempat di bumi indonesia tidak ada tempat aman untuk bermukim. dengan kondisi seperti ini sudah seharusnya bangsa kita sadar dan berubah untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa ini.
Sebagai generasi yang menjadi tulang punggung bangsa indonesia, kita harus saling mebantu satu dengan lainnya memberikan sumbangsih terbaik guna mencapai bangsa yang lebih maju. Untuk itulah dibutuhkan Sumber Daya Manusianya yang baik guna bersaing dengan negara – negara lain dalam hal teknologi komputerisasi seperti sekarang sudah sangat berkembang. Negara – negara lain saling belomba guna meberikan teknologi terbaik kepada masyarakat dunia, tidak hanya itu mereka juga memberikan mutu terbaik dan hal tersebut nantinya akan mencerminkan tingkat IPTEK suatu negara tertentu. perkembangan ilmu teknologi dan informasi sekarang haruslah kita terima ditengah – tengah masyarakat indonesia. Untuk itu jadi keharusan SDM masyarakat kita jadi perhitungan.
Dengan SDM baik niscaya indonesia akan menjadi salah satu negara maju di tahun 2020 nanti. Tindakan pemerintah untuk hal ini sangatlah berperan guna memajukan dunia pendidikan di indonesia. Pembangunan sarana dan prasarana pendidikan perlu dilakukan tidak hanya dilingkungan pusat tetapi juga daerah – daerah terpencil seperti pedesaan perlu untuk diperhatikan. Pendidikan di indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara – negara lain seperti Malaysia. Untuk itu pemerintah perlu untuk memperhatikan pendidikan yang ada di negara kita. Hal lain yang perlu dilakukan adalah suatu lembaga atau tempat pemberdayaan bagi masyarakat yang memiliki keahlian maupun makat yang baik. Terkadang orang – orang berbakat di indonesia kurang diberdayakan sehingga ilmu yang dimiliki terpakai dengan sia – sia bukan untuk kemajuan teknologi melainkan mencukupi kebutahan sehari – hari.
Proklamasi RI ke-63 indonesia mari kita jadikan sebagai tonggak kemajuan pendidikan dan tehnologi Indonesia. Sebagai generasi penerus sudah pantas kita ambil bagian guna mewujudkan cita – cita bangsa indonesia menuju bangsa yang adil, makmur dan sejahtera
BGP (Border Gateway Protocol) Atribute
Seperti telah dibahas pada artikel sebelumnya, BGP sebagai inti Internet merupakan protocol routing external/exterior yang mehubungkan AS( Autonomous System) berbeda dari suatu jaringan local ke berbagai jaringan lain atau Internet(jaringan public). Dengan begitu banyak dan tingkat kesulitan dalam hal transfer paket data terjadi, maka protocol routing bgp dituntut untuk memliki fitur – fitur yang dapat melakukan hal tersebut. Beberapa fitur tersebut terdapat pada atribut BGP yang merupakan inti daripada protocol bgp dan boleh dikatakan bahwa kekuatan protocol bgp ada pada atribute tersebut yang dapat menetukan jalur/path terbaik untuk dilalui suatu jaringan local ke luar. Atribute pada protocol routing bgp seperti packet pada protocol routing lain lebih fleksibel dan mudah memanage atribute tersebut. Kita dapat mengatur routing update yang masuk maupun keluar dan juga kita dapat dengan bebas mengatur karakteristik dan sifat terhadap sesi BGP tersebut.
Atribut – atribut yang diberikan protocol bgp terdiri dari 10 atribute akan tetapi ada satu atribute keluaran cisco dan khusus dipakai untuk produk/router cisco. Masing – masing atribute memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda – beda sehingga untuk dapat mengatur sesi komunikasi keluar maupun masuknya suatu routing update dan packet data, kita harus mengerti atribute mana yang sesuai dengan hal yang akan kita manage. Dibawah ini akan dijelaskan atribut – atribut pada bgp,
1. Origin
Atribut BGP yang satu ini merupakan atribut yang termasuk dalam jenis Well known mandatory. Jika
sumbernya berasal router BGP dalam jaringan lokal atau menggunakan asnumber yag sama dengan yang sudah ada, maka indicator atribut ini adalah huruf “i” untuk interior. Apabila sumber rute berasal dari luar jaringan lokal, maka tandanya adalah huruf “e” untuk exterior. Sedangkan apabila rute didapat dari hasil redistribusi dari routing protokol lain, maka tandanya adalah “?” yang artinya adalah incomplete.
2. AS_Path
Atribut ini harus ada pada setiap rute yang dipertukarkan menggunakan BGP. Atribut ini menunjukkan perjalanan paket dari awal hingga berakhir di tempat Anda. Perjalanan paket ini ditunjukkan secara berurut dan ditunjukkan dengan menggunakan nomor-nomor AS. Dengan demikian, akan tampak melalui mana saja sebuah paket data berjalan ke tempat Anda.
3. Next Hop
Next hop sesuai dengan namanya, merupakan atribut yang menjelaskan ke mana selanjutnya sebuah paket data akan dilemparkan untuk menuju ke suatu lokasi. Dalam EBGP-4, yang menjadi next hop dari sebuah rute adalah alamat asal (source address) dari sebuah router yang mengirimkan prefix tersebut dari luar AS. Dalam IBGP-4, alamat yang menjadi parameter next hop adalah alamat dari router yang terakhir mengirimkan rute dari prefix tersebut. Atribut ini juga bersifat Wellknown Mandatory.
4. Multiple Exit Discriminator (MED)
Atribut ini berfungsi untuk menginformasikan router yang berada di luar AS untuk mengambil jalan tertentu untuk mencapat si pengirimnya. Atribut ini dikenal sebagai metrik eksternal dari sebuah rute. Meskipun dikirimkan ke AS lain, atribut ini tidak dikirimkan lagi ke AS ketiga oleh AS lain tersebut. Atribut ini bersifat Optional Nontransitive.
5. Local Preference
Atribut ini bersifat Wellknown Discretionary, di mana sering digunakan untuk memberitahukan router-router BGP lain dalam satu AS ke mana jalan keluar yang di-prefer jika ada dua atau lebih jalan keluar dalam router tersebut. Atribut ini merupakan kebalikan dari MED, di mana hanya didistribusikan antar-router-router dalam satu AS saja atau router IBGP lain.
6. Atomic Agregate
Atribut ini bertugas untuk memberitahukan bahwa sebuah rute telah diaggregate (disingkat menjadi pecahan yang lebih besar) dan ini menyebabkan sebagian informasi ada yang hilang. Atribut ini bersifat Wellknown Discretionary.
7. Agregator
Atribut yang satu ini berfungsi untuk memberikan informasi mengenai Router ID dan nomor Autonomous System dari sebuah router yang melakukan aggregate terhadap satu atau lebih rute. Parameter ini bersifat Optional Transitive.
8. Community
Community merupakan fasilitas yang ada dalam routing protokol BGP-4 yang memiliki kemampuan memberikan tag pada rute-rute tertentu yang memiliki satu atau lebih persamaan. Dengan diselipkannya
sebuah atribut community, maka akan terbentuk sebuah persatuan rute dengan tag tertentu yang akan dikenali oleh router yang akan menerimanya nanti. Setelah router penerima membaca atribut ini, maka dengan sendirinya router tersebut mengetahui apa maksud dari tag tersebut dan melakukan proses sesuai dengan yang diperintahkan. Atribut ini bersifat Optional Transitive.
9. Originator ID
Atribut ini akan banyak berguna untuk mencegah terjadinya routing loop dalam sebuah jaringan. Atribut ini membawa informasi mengenai router ID dari sebuah router yang telah melakukan pengiriman routing. Jadi dengan adanya informasi ini, routing yang telah dikirim oleh router tersebut tidak dikirim kembali ke router itu. Biasanya atribut ini digunakan dalam implementasi route reflector. Atribut ini bersifat Optional Nontransitive.
10. Cluster List
Cluster list merupakan atribut yang berguna untuk mengidentifikasi router-router mana saja yang tergabung dalam proses route reflector. Cluster list akan menunjukkan path-path atau jalur mana yang telah direfleksikan, sehingga masalah routing loop dapat dicegah. Atribut ini bersifat Optional Nontransitive.
11. Weight
Atribut yang satu ini adalah merupakan atribut yang diciptakan khusus untuk penggunaan di router keluaran vendor Cisco. Atribut ini merupakan atribut dengan priority tertinggi dan sering digunakan dalam proses path selection. Atribut ini bersifat lokal hanya untuk digunakan pada router tersebut dan tidak diteruskan ke router lain karena belum tentu router lain yang bukan bermerk Cisco dapat mengenalinya. Fungsi dari atribut
ini adalah untuk memilih salah satu jalan yang diprioritaskan dalam sebuah router.
Apabila terdapat dua atau lebih jalur keluar maka dengan mengkonfigurasi atribut weight router dapat menetukan salah satu path terbaik yang diprioriataskan sebagai jalur keluar dengan menentukan priority tertinggi.
Dengan beberapa atribut yang terdapat pada protocol routing BGP berbagai sesi kerja untuk menetukan path seletion terbaik dapat dilakukan. Perkembangan protocol routing BGP kedepan akan sangat berkembang cukup pesat daripada protocol routing external lain dan dibutuhkan keahlian dan kemahiran yang baik serta punya pengalaman yang banyak pada perusahan – perusahaan besar seperti ISP.
Workshop NOS
Worshop yang diadakan tanggal 2 agustus kemaren berjalan dengan sukses walaupun sedikit ada masalah ( listrik mati ) biasalah masalah sehari2 di kota medan. 
Salah tempat diadakannya worshop pada Speady traning center medan
Beberapa anggota workshop sedang menunggu waktu untuk memulai diadakannya workshop sambil browsing internet.
ngomong bentar ssebelum memasuki ruangan worshop
Salah satu anggota NOS sedang memberikan pengarahan kepada para perserta – peserta workshop yang diantara nya ngebahas Linux basic dan cara – cara ngistall linux ubuntu.
Keseriusan para peserta workshop dalam mengikuti workshop terlihat dari pancaran wajah dari masing – masing peserta ( maklum aj masih banyak peserta yang belum ngerti sistem operasi linux apalagi cara nginstall linux )
Me …. anggota NOS medan dan sebagai pembentuk NOS ( keren gak …xixi)
Pembicara kelihatannya begitu serius kasi materi mudah – mudahan para peserta mengerti kalo tidak bisa berabeh acara workshopnya










