Configuration for get final solution

Pemakaian line vty untuk beberapa router

Posted in Cisco by giat on January 7, 2009

Kebanyakan para administrator jaringan membutuhkan kemudahan serta efisiensi waktu pada saat konfigurasi dan troubleshoot jaringan. Hal ini sangat memberikan keuntungan baik pada topologi jaringan maupun pekerjaan tersebut. Misalnya pada topologi jaringan besar dibutuhkan tugas dan pekerjaan troubleshoot yang complex dan harus mengatur perangkat – perangkat jaringan secara manual, seperti konfigurasi router dilakukan harus pada router akan dikonfigurasi sehingga akan merepotkan administrator untuk mengatur tiap perangkat tersebut satu – persatu. Perusahaan – perusahaan besar membutuhkan suatu pekerjaan yang cepat dan efisiensi waktu sehingga tidak menggu aktifitas lainnya bagi administrator.

Untuk memcahkan masalah diatas sebenarnya sudah ada cara yang sangat baik. Dengan memakai aplikasi telnet kita dapat meremote perangkat jaringan dari tempat jauh dan melakukan settingan untuk perangkat jaringan dengan syarat memiliki hubungan dan koneksi langsung atau tidak di tempat kita akan melakukan konfiguras. Dengan aplikasi ini kita dapat melakukan segala konfigurasi pada perangkat yang telah di remote tanpa ada kendala seperti jarak terhadap perangkat itu.

Pada tutorial kali ini saya akan coba menjelaskan jenis aplikasi remote pada router (router Cisco). Jenis layanan tersebut merupakan bagian dari program yang dijalankan pada sebuah router Cisco, kita dapat mengkonfigurasi dan menyetting sehingga dapat meremote perangkat atau router dengan router lainnya. Konfigurasi akan dilakukan pada salah satu interface yang akan dikonfigurasi sebagai line vty. Konfigurasi ini akan membuat suatu line khusus keperangkat/router dengan memberikan suatu password yang akan memberikan keamanan pada suatu router sehingga akan menjamin sekuritas  konfigurasi pada router tersebut. Aplikasi ini menyediakan beberapa kelebihan khususnya kemudahan saat troubleshoot jaringan sehingga para administrator dapat dengan memudah terhubung langsung ke suatu perangkat jaringan pada topologi jaringan yang dibuat.

Langkah – langkah melakukan konfigurasi line vty

  1. Lakukan koneksi antara perangkat/router. Hal ini sangat perlu dilakukan karena tanpa terjadinya suatu koneksi maka akan sulit untuk melakukan koneksi meskipun telah dikonfigurasi line vty tersebut.
  2. Konfigurasi line vty agar dapat melakukan remote dengan perangkat/router yang lainnya.
  3. Periksa hubungan koneksi setelah terjadi hubungan antara sesame router yang telah kita konfigurasi.

Contoh Topologi jaringan

line-vty

Router0

Konfigurasi tiap – tiap interface pada router yang menjadi penghubung antara router lainnya.

interface FastEthernet0/0

ip address 10.10.15.2 255.255.255.0

duplex auto

speed auto

!

Lakukan konfigurasi pada line vty tersebut

router rip

network 10.0.0.0

!

ip classless

!

line con 0

line vty 0 4

password giat

login

!

Router1

interface FastEthernet0/0

ip address 10.10.15.3 255.255.255.0

duplex auto


speed auto

!

interface FastEthernet1/0

ip address 20.20.15.4 255.255.255.0

duplex auto

speed auto

!

router rip

network 10.0.0.0

network 20.0.0.0

!

ip classless

!

line con 0

line vty 0 4

password neo

login

!

Router2

interface FastEthernet0/0

ip address 20.20.15.5 255.255.255.0

duplex auto

speed auto

!

interface FastEthernet1/0

ip address 192.168.10.6 255.255.255.0

duplex auto

speed auto

!

router rip

network 20.0.0.0

network 192.168.10.0

!

ip classless

!

line con 0

line vty 0 4

password iyan

login

!

Router3

interface FastEthernet0/0

ip address 192.168.10.7 255.255.255.0

duplex auto

speed auto

!

router rip

network 192.168.10.0

!

ip classless

!

line con 0

line vty 0 4

password bade

login

!

memperhatikan hasil konfigurasi router diatas, maka  salah satu interface router akan dijadikan sebagai line vty hal ini dilakukan agar router remote dapat diakses melalui interface router sebagai penghubung. Dengan mengetahui ip address pada interface router kita dapat mengakses router tersebut dari jarak jauh (remote) akan tetapi dengan memberikan password sesuai dengan hasil konfigurasi.

Kita akan mencoba mengakses router3 melalui router0 , maka yang perlu dilakukan adalah :

Router0

R0>telnet 192.168.10.7

Trying 192.168.10.7 …

User Access Verification

Password: bade

R3>

Terlihat pada tabel routing kita telah terhubung dan masuk ke router3 akan tetapi belumlah boleh melakukan akses konfigurasi pada router3 tersebut. Untuk itu kita harus login ke mode root dengan melakukan enable.

R3>enable

Password: bade

R3#

Setelah melakukan enable pada mode console router3 maka akan dimintai password jika benar maka akan diijinkan ke mode root untuk konfigurasi – konfigurasi pada router.   Selamat mencoba …. !!!!


Routing OSPF with Single and Multiple area

Posted in OSPF by giat on November 23, 2008

Menggunakan routing OSPF sebagai pengendali informasi – informasi routing suatu network sangat menguntungkan untuk diterapkan. pemakaian ospf dapat dimanage sehingga membentuk beberapa area kerja routing, hal ini akan sangat membantu dalam hal penanganan informasi yang diterima oleh masing – masing router dalam area kerja tersebut. Penyebaran packet – packet informasi routing akan teratur karena tiap – tiap area ospf memiliki sistem managemen tersendiri agar informasi yang ada tidak keluar ataupun masuk ke area lain begitu saja. Area ospf dapat dikategorikan menjadi dua bagian yakni single area network dan multiple area.

Sebelum penjelasan mengenai single dan multiple area saya memberikan sedikit penjelasan tentangan area backbone pada ospf. Area backbone sering disebut sebagai area 0 merupakan inti area routing pada ospf. Untuk area ini harus dimiliki oleh suatu network yang mana menerapkan sistem area routing ospf. Area 0 ini akan menjadi pusat koneksi antara router – router yang akan memperkenalkan informasi tabel routing kepada router – router tetangga (neighbor). Dengan area 0 tesebut akan
mengkomunikasikan area – area yang ada pada network ospf yang disebut nonzero area yakni area – area yang terdapat disekitar area 0 dan terkoneksi dengan area 0.

Kembali pada pembahasan single dan multiple area network. Single area network merupakan routing ospf yang hanya memiliki satu area network saja dan biasanya digunakan untuk area yang kecil  hal ini diisebabkan karena jumlah router yang ada pada area network tersebut terbatas atau sedikit. Ketika menggunakan single area ini maka seluruh informasi routing akan disebar / flooded ke tiap – tiap router pada area tersebut. Single area ini dapat diidentifikasi denga angka antara 0 sampai 4,294,967,295
hal ini dimaksutkan untuk memudahkan pengenalan terhadap suatu area.

single-area1

Gambar 2.1 Single Area OSPF Network

Biasanya untuk pemakaian area routing ospf normalnya menggunakan multiple area. Ketika memakai single area tidak memakai sistem summarization. Akan tetapi dengan multiple area akan mengijinkan
sistem hirarki dan scalable suatu network design. Menerapkan multiple area network ini area 0 harus diterapkan pada area tersebut serta harus terkoneksi. Area 0 akan berperan sebagai jembatan penyeberangan informasi – informasi routing ke area – area lainnya (nonzero area).

multiple-area

Gambar 2.2 Multiple Area OSPF Network

Masing – masing router pada gambar 2.2 saling terhubung ke area 0 dan terkoneksi dengan baik, sehingga area – area lainnya dapat bertukar informasi. Router – router tersebut tidak dikonfigurasikan menjadi paling utama, akan tetapi interface – interface router akan yang diutamakan dalam konfigurasi area – area network. Hal ini akan membuat area – area disekitar area 0 akan terkoneksi melalui salah satu interface pada router yang ada pada area 0. Seperti pada gambar diatas salah satu router memeliki
interface yang ternokesi ke area 51 dan interface lain terhubung ke area 0 maka akan terjadi koneksi antara 51 dengan area 0 melalui interface – interface tersebut.

nonzero

Gambar 2.3 All nonzero area must be connected to area 0


Gambar diatas menerangkan bahwa area 1 terhubung ke area 0 melalui router C, router C yang memliki interface pada area 0 dan juga sebuah interface pada area 1. Area 51 juga terhubung ke area 0 melalui router B dengan sebuah interface pada area 0 dan sebuah interface pada area 51. Dengan interface – interface tersebut akan menghubungkan masing – masing area.

invalid

Gambar 2.4 Invalid OSPF Network


Area network pada gambar 2.4 merupakan area yang salah / invalid area. Dikarenakan area 0 tidak menjadi backbone pada network akan tetapi area 1 yang menjadi backbone area. Design seperti ini tidak dapat diterapkan pada pembentukan suatu area network sebab area 0 harus menjadi area backbone pada suatu area network, selain area 0 tidak diijinkan area – area lainnya menjadi area backbone. Seperti gambar 2.4 area 1 menjadi backbone serta area 0 sebagai nonzero area. Koneksi area 51 dengan area 0 tidak ada yang membuat komunikasi dengan area 0 ini tidak dapat dilakukan .

Pengklasifikasian area – area pada routing ospf ini sangat membantu pada troubleshout suatu area network serta akan mempermudah dalam penganganan konfigurasi – konfigurasi jaringan yang mana menerapkan sistem routing ospf.

Tagged with:

Windows Seven next generation from Vista

Posted in Windows by giat on November 14, 2008

link-to-news_3_windows-sevenWindows Vista baru saja masuk di Indonesia dan mulai diterima oleh masyarakat tapi hal itu tampaknya belum cukup memuaskan Microsoft sebagai pengembang Operating System ( OS ) untuk kembali membuat gebrakan baru yaitu dengan mengembangkan Windows Seven , OS ini rencananya akan di plot sebagai penerus OS Windows Vista.

Windows 7 merupakan sistem operasi teranyar Microsoft yang diposisikan sebagai suksesor Vista. Windows 7 juga dikenal dengan nama kode Vienna, dari sebelumnya yang bernama kode B

Berikut cuplikan screenshot OS Windows 7 versi M3 Build 6780 yang diambil dari Blog ThinkNext.net. Dalam screenshot ini akan dibeberkan beberapa gambar diantaranya memperlihatkan berbagai aspek tampilan Windows 7 mulai dari Start Menu, Control Panel, Media Player dan tentunya halaman error Windows 7.

news_3_systrayoi0

Wellcome Center

news_3_welcomcentercu4

news_3_sysaboutlb3

Desktop Gadgets

news_3_7desktop

Start Menu

news_3_startmenusl5

Windows PowerShell

news_3_powershellhp0

Display Properties

news_3_displayhm2

Beberapa minggu lalu beberapa orang petinggi Microsoft telah mengatakan bahwa mereka akan merilis informasi teknis mendetil di Professional Developers Conference atau WinHEC dalam beberapa minggu ke depan ini. Mereka juga mengatakan bahwa versi beta Windows 7 akan dikeluarkan di bulan Desember, dengan versi finalnya di pertengahan tahun 2009 dan mulai dipasarkan 2010. Tetapi sejak saat itu masih belum ada lagi berita tentang Windows 7, hingga Microsoft merilis detil lebih lanjut dalam beberapa minggu mendatang ini, kita harus puas dengan beberapa screenshot di bawah ini. (via Cnet, tips dari aerialsky)

Microsoft masih pelit memberikan infonya, tapi satu fitur yang telah dibeberkan hanyalah interface multi touch di Windows 7. Dalam demonya, Corporate VP Microsoft Larson-Green menggambar dengan beberapa jarinya secara bersamaan untuk menunjukkan teknologi itu tak hanya bisa memproses sentuhan tapi beberapa inputan secara simultan.

Seperti yang dikutip penjelasan Bill Veghte maka rencananya Windows 7 akan diluncurkan bulan Januari 2010. “Kami yakin produk terbaru kami akan sangat bagus. Kami memiliki komitmen dan portfolio. Oleh karena itu Windows 7 akan diluncurkan sesuai target, tiga tahun setelah Windows terakhir muncul,” ujar Kepala unit bisnis Windows Bill Veghte, seperti dilansir melalui Cnet, Jumat (25/7/2008).

Veghte berjanji bahwa software baru Windows tersebut akan secepatnya diselesaikan. Tepatnya, akan selesai pada Desember 2009 sehingga pada awal 2010 sudah bisa dipasarkan. Mirosoft memang berkomitmen untuk selalu menelurkan versi update Windows setiap tiga tahun sekali. Seri Windows terakhir kemarin diisi dengan seri Windows Vista.

Menurut Veghte, perubahan besar-besaran yang akan mendominasi sistem operasi milik Microsoft tersebut adalah dilengkapinya Windows 7 dengan tampilan penggunaan yang multitouch.


Copyright ThinkNext.net 18-oktober-2008 (ilmugrafis.com)

Tagged with:

Redistribute Protocol Routing pada BGP (Border Gateway Protocol)

Posted in BGP by giat on November 3, 2008

Routing BGP  berfungsi untuk mengkoneksikan antara network – network address  yang berbeda AS(Autonomous System)nya sehingga dapat terkoneksi. Protocol – protocol routing lainnya pada routing IGP(Internal Gateway Protocol) dapat dihubungkan kedalam routing BGP dalam hal ini routing IBGP yang akan menghandle routing – routing pada suatu AS. Routing IGP yang dimaksut diatas antara lain RIP, OSPF, IGRP, dan EIGRP maupun routing protocol lainnya. Misalnya protocol routing static, default routing, IS-IS,
dan juga routing EGP yang ada. Tujuan utama redistribute routing pada BGP adalah untuk memperkenal routing protocol non-BGP ke routing BGP itu sendiri.

Untuk lebih jelasnya saya akan memberikan salah satu contoh mengenai redistribute routing pada BGP sekaligus  dengan konfigurasi masing – masing router sehingga dapat mengkomunikasikan protocol non-BGP ke routing BGP agar dapat lebih mudah dimengerti. Pada contoh ini saya akan mengambil protocol EIGRP agar dapat dibaca oleh routing BGP. Perhatikan gambar dibawah ini.

Gambar diatas menjelaskan bahwa router C ingin mengenalkan network address 172.16.2.0/24 dan network address 172.16.3.0/24 melalui protocol routing EIGRP. Yang mana antara router A dan router B
memliki koneksi routing BGP sehingga tidak mempunyai kendala untuk berhubungan, akan tetapi pada router C memiliki routing EIGRP dan tidak dapat berhungan secara langsung ke routing BGP. Untuk itu
diperlukan settingan pada router BGP agar dapat menerima routing EIGRP dari luar routing BGP maka BGP akan menggunakan redistribute protocol – protocol routing di luar BGP. Redistribute ini dilakukan
agar router A dapat menerima dan mengetahui network address yang ada pada router C dengan protocol routing diluar BGP.

Router A

interface loopback 0

ip address 172.16.0.1 255.255.255.0
!

interface loopback 1

ip address 172.16.1.1 255.255.255.0

!

router bgp 1

network 172.17.1.0 mask 255.255.255.0

neighbor 172.17.1.1 remote-as 2

Router B

router eigrp 1

network 10.0.0.0

network 172.17.0.0

no auto-summary

!

router bgp 2

network 10.1.0.0 mask 255.255.255.252

network 172.17.1.0 mask 255.255.255.0

neighbor 172.17.1.2 remote-as 1

!

ip route 172.16.4.0 255.255.255.0 s2/0

Router C

interface loopback 0

ip address 172.16.2.1 255.255.255.0

!

interface loopback 1

ip address 172.16.3.1 255.255.255.0

!

router eigrp 1

network 172.16.0.0

network 10.0.0.0

no auto-summary

Masing – masing router telah dikonfigurasi sesuai dengan network – network yang ada pada tabel routing tiap router. Sebelum melakukan konfigurasi redistribute routing BGP ada baiknya melakukan pemeriksaan terhadap tabel routing maupun tabel routing BGP agar dapat mengetahui network dan metric yang ada pada suatu router BGP.  Maka untuk mengetahui hal tersebut dapat dilakukan dengan command
show ip route atau show ip bgp .

rtrB#show ip route

Codes: C – connected, S – static, I – IGRP, R – RIP, M – mobile, B – BGP

D – EIGRP, EX – EIGRP external, O – OSPF, IA – OSPF inter area

N1 – OSPF NSSA external type 1, N2 – OSPF NSSA external type 2

E1 – OSPF external type 1, E2 – OSPF external type 2, E – EGP

i – IS-IS, L1 – IS-IS level-1, L2 – IS-IS level-2, ia – IS-IS inter area

* – candidate default, U – per-user static route, o – ODR

P – periodic downloaded static route

Gateway of last resort is not set

172.17.0.0/24 is subnetted, 1 subnets

C       172.17.1.0 is directly connected, Ethernet0/0

172.16.0.0/24 is subnetted, 3 subnets

S       172.16.4.0 is directly connected, Serial2/0

D       172.16.2.0 [90/1889792] via 10.1.1.2, 00:26:32, Serial2/0

D       172.16.3.0 [90/1889792] via 10.1.1.2, 00:26:32, Serial2/0

10.0.0.0/30 is subnetted, 1 subnets

C       10.1.1.0 is directly connected, Serial2/0

rtrB#show ip bgp

BGP table version is 3, local router ID is 172.17.1.1

Status codes: s suppressed, d damped, h history, * valid, > best, i – internal

Origin codes: i – IGP, e – EGP, ? – incomplete

Network          Next Hop            Metric LocPrf Weight Path

*> 10.1.1.0/30      0.0.0.0                  0         32768 i

*  172.17.1.0/24    172.17.1.2               0             0 1 i

*>                  0.0.0.0                  0         32768 i

rtrA#show ip route

Codes: C – connected, S – static, I – IGRP, R – RIP, M – mobile, B – BGP

D – EIGRP, EX – EIGRP external, O – OSPF, IA – OSPF inter area

N1 – OSPF NSSA external type 1, N2 – OSPF NSSA external type 2

E1 – OSPF external type 1, E2 – OSPF external type 2, E – EGP

i – IS-IS, L1 – IS-IS level-1, L2 – IS-IS level-2, ia – IS-IS inter area

* – candidate default, U – per-user static route, o – ODR

P – periodic downloaded static route

Gateway of last resort is not set

172.17.0.0/24 is subnetted, 1 subnets

C       172.17.1.0 is directly connected, FastEthernet0

172.16.0.0/24 is subnetted, 2 subnets

C       172.16.0.0 is directly connected, Loopback0

C       172.16.1.0 is directly connected, Loopback1

10.0.0.0/30 is subnetted, 1 subnets

B       10.1.1.0 [20/0] via 172.17.1.1, 00:25:38

rtrA#show ip bgp

BGP table version is 4, local router ID is 172.16.1.1

Status codes: s suppressed, d damped, h history, * valid, > best, i – internal

Origin codes: i – IGP, e – EGP, ? – incomplete

Network          Next Hop            Metric LocPrf Weight Path

*> 10.1.1.0/30      172.17.1.1               0             0 2 i

*> 172.17.1.0/24    0.0.0.0                  0         32768 i

*                   172.17.1.1               0             0 2 i

Dari hasil tabel routing pada tiap – tiap router dapat diambil kesimpulan bahwa nilai metric terbaca oleh router B adalah 1889792. Hal ini disebabkan oleh bentuk redistribute yang dipergunakan dalam hal ini tidak memiliki nilai metric. Router C menggunakan metric EIGRP sebagai penghubung ke routing BGP.
Untuk itu diperlukan perubahan konfigurasi pada router A dan router B agar dapat menerima metric EIGRP tersebut.

Router A

router bgp 1

network 172.17.1.0 mask 255.255.255.0

redistribute connected

neighbor 172.17.1.1 remote-as 2

Router B

router bgp 1

network 10.1.0.0 mask 255.255.255.0

network 172.17.1.0 mask 255.255.255.0

redistribute static

redistribute eigrp 1

neighbor 172.17.1.2 remote-as 2

Sekarang saatnya melakukan ujicoba terhadap router – router diatas apakah bekerja  sesuai prinsip redistribute routing BGP.

rtrA#show ip bgp

BGP table version is 8, local router ID is 172.17.1.1

Status codes: s suppressed, d damped, h history, * valid, > best, i – internal

Origin codes: i – IGP, e – EGP, ? – incomplete

Network          Next Hop            Metric LocPrf Weight Path

*> 10.0.0.0         0.0.0.0                  0         32768 ?

*> 10.1.1.0/30      0.0.0.0                  0         32768 i

*> 172.16.0.0       0.0.0.0                  0         32768 ?

*                   172.17.1.2               0             0 1 ?

*> 172.17.0.0       172.17.1.2               0             0 1 ?

*> 172.17.1.0/24    0.0.0.0                  0         32768 i

*                   172.17.1.2               0             0 1 i

rtrB#show ip bgp

BGP table version is 19, local router ID is 172.16.1.1

Status codes: s suppressed, d damped, h history, * valid, > best, i – internal

Origin codes: i – IGP, e – EGP, ? – incomplete

Network          Next Hop            Metric  LocPrf   Weight  Path

*> 10.0.0.0         172.17.1.1               0             0 2 ?

*> 10.1.1.0/30      172.17.1.1             0             0 2 i

*  172.16.0.0       172.17.1.1              0             0 2 ?

*>                  0.0.0.0                  0         32768 ?

*> 172.17.0.0       0.0.0.0                  0         32768 ?

*  172.17.1.0/24    172.17.1.1            0             0 2 i

*>                  0.0.0.0                          0         32768 i

Tagged with:

Slackware 12.1

Posted in Linux by giat on October 30, 2008

Udah lama sie aku pengen cobain slackware terbaru seri 12.1 yang sebelumnya make slackware 12.0. Kebetulan seri slackware 12.0 dengan seri – seri sebelumnya masih banyak masalah yang belon terselesaikan
contohnya aja driver wireless masih gak juga ketemu dan harus bekerja lebih extra buwat nginstall manual driver wireless (kebetulan aku install salckware 12.0 di laptop HP-500).

Tapi untuk driver – driver lainnya seperti driver audio sepertinya gak ada masalah untuk dengerin musik tinggal alsaconf-kan ato alsamixer pada terminal command nya. Settingan server client side pada
slackware 12.0 juga dapat dilakukan dengan mudah tanpa ada masalah kita tinggal setting aja pada file /etc-nya. Dengan seri slackware terbaru ini mudah – mudahan masalah driver wirelessnya bisa diatasin.

be continued …. !!!!!!

Wah wah….  cape banget nie installin slackware 12.1 bingun dibuwat LILO slackware nya gak seperti slackware versi sebelumnya gak ada masalah install LILO (maklum nie yang masih newbie di slack … ). Udah dua hari gak ketemu juga cara install LILO-nya dan hampir tiga kali aku coba install ulang slackware 12.1 tapi gak bisa juga kedetect LILO nya. Kemaren itu aku coba install LILO pake yang automatic, tapi gak bisa juga boot dari LILO. Truss aku cobain install dengan manual install LILO but masalahnya lebih ribet lagi. Waktu aku install LILO nya error gak bisa ke install di slackware, apa kira – kira masalah nya .. ?

Tunggu – tunggu waktu dan hari tapi gak kunjung datang ( hahahahah ). Sebenarnya gak sulit sie masalah nya, cuman nginstall LILO nya aja tapi kok gak bisa ke install yachhh. Jadi gak bisa hari ini aku jalankan slackware 12.1 di laptop q. ntar kalo udah bisa ke install LILO-nya salackware 12.1 aku jelasin dech kelanjutannya  …. ( cape ….!!!)

Tagged with:

Packet tracer

Posted in Cisco by giat on October 18, 2008

Packet tracer merupakan salah satu aplikasi keluaran Cisco sebagai simulasi/simulator merangkai dan sekaligus mengkonfigurasi suatu jaringan(network). Sama halnya  dengan simulator – simulator jaringan lainnya yang ada seperti GNS3, Dynamips, Dynagen maupun simulator lain khusus digunakan pada  simulasi jaringan. Simulator tersebut tidak jauh berbeda dengan packet tracer, akan tetapi kemudahaan pada packet tracer lebih baik dari simulator diatas hal tersebut nampak dari penempatan perangkat jaringan maupun pada saat konfigurasi perangkat jaringan. Software ini sangat praktis digunakan untuk mendesain topologi jaringan yang kita inginkan, disertai dengan berbagai perangkat -  perangakat jaringan dibutuhkan pada suatu area network misal router, switch, hub maupun perangkat lainnya. Dengan dukungan dari banyak perangkat tersebut akan memudahkan kita dalam menentukan jenis perangkat jaringan yang akan kita gunakan pada topologi kita inginkan.

Aplikasi packet tracert memiliki keunggulan dan kemudahan dibandingkan dengan simulator jenis lain. Kita dapat melakukan rancangan suatu topologi jaringan dengan mudah serta penempatan perangkat jaringan dapat diatur dan ditentukan dengan baik. Konfigurasi – konfigurasi juga dapat dilakukan dengan teliti sehingga antara perangkat jaringan dapat dihubungkan dengan baik. Kemudahan yang diberikan packet tracer juga terlihat pada saat penginstallan aplikasi tersebut. Software packet tracer dapat diinstall pada PC maupun laptop dengan spesifikasi rendah sehingga tidak tergantung pada spesifikasi yang baik sekalipun.

Packet tracer sangat mudah digunakan dan diaplikasikan pada suatu desain topologi jaringan/network. Dengan kemudahan tersebut aplikasi telah melakukan peningkatan – peningkatan agar dapat melengkapi aplikasi packet tracer versi sebelumnya. Saya memakai simulator ini versi 4.1, dengan versi kemudahaan sudah sangat kelihatan apalagi sekarang muncul versi terbaru 5.0 keluaran Cisco dengan packet tracer 5.0 akan sangat membantu para administrator jaringan untuk mengimplementasikan topologi jaringan sebelum diterapkan pada suatu area nyata. Untuk mendapatkan aplikasi ini kamu bisa mendownloadnya di internet secara gratis

Untuk membuat sebuah konfigurasi jaringan, bagi pemula, sebaiknya ditentukan dulu jenis device yang digunakan, berapa jumlahnya dan bagaimana bentuk konfigurasi jaringan tersebut pada kertas buram. Jenis-jenis kabel penghubung ditentukan berdasarkan aturan sebagai berikut :

Untuk mengkoneksikan peralatan yang berbeda, gunakan kabel Straight-through

Router  –   Switch
Router  –   Hub
PC        –   Switch
PC        –   Hub

Untuk mengkoneksikan peralatan yang sama, gunakan kabel Cross-Over

Router   -  Router
Router   –  PC
Switch   -  Switch
Switch   –  Hub

Untuk mengkonfigurasi Router melalui PC gunakan kabel Roll-Over

Pada komfigurasi perangkat – perangkat jaringan sangat menentukan dalam merangcang suatu topologi jaringan . Proses konfigurasi merupakan bagian penting dalam susunan jaringan. Proses konfigurasi di masing-masing device diperlukan untuk mengaktifkan fungsi dari device tersebut. Proses konfigurasi meliputi pemberian IP Address dan subnet mask pada interface-interface device (pada Router, PC maupun Server), pemberian Tabel Routing (pada Router), pemberian label nama dan sebagainya. Setelah proses konfigurasi dilakukan, maka tanda bulatan merah pada kabel yang terhubung dengan device tersebut berubah menjadi hijau. Ada 2 mode konfigurasi yang dapat dilakukan : mode GUI (Config mode) dan mode CLI (Command Line Interface).  Contoh konfigurasi dengan mode GUI Klik device yang akan dikonfigurasi. Pilih menu Config. Klik interface yang diinginkan. Isi IP Address dan subnet mask-nya. Lakukan hal yang sama untuk interface-interface dan device yang lain.

Contoh konfigurasi dengan mode CLI Klik device yang akan dikonfigurasi. Pilih menu CLI. Ketik perintah sesuai dengan format yang disediakan oleh Cisco.

Setelah hal tersebut dilakukan untuk melakukan simulasi terhadap konfigurasi diatas dapat dilakukan dengan system konfigurasi seperti halnya konfigurasi – konfigurasi pada router maupun switch. Untuk itu diperlukan perpaduan antar perangkat yang akan kita simulasikan atau dibangun. Gambar diatas menjelaskan tentang konfigurasi – konfigurasi yang dilakukan pada suatu perangkat misal pada router. Hal ini dilakukan untuk mengkoneksikan dengan router maupun pada suatu host. Jelas terlihat bentuk konfigurasi dan akan memudahkan kita untuk mengatur area jaringan yang akan kita buat.

Contoh kecil topologi jaringan yang akan dibangun dengan packet tracer :

Dengan aplikasi dan simulator packet tracer ini mudah – mudahan dapat bermanfaat untuk pengembangan ilmu dan pengetahuan tentangan jaringan dan perangkat  jaringan komputer maupun konfigurasi – konfigurasi pada suatu perangkat seperti halnya pada konfigurasi router baik itu konfigurasi pada mode Cisco maupun Juniper Network yang sekarang ini paling banyak digunakan dalam pengkonfigurasian perangkat networking

Tagged with:

NOS community Forum

Posted in Artikel Lepas by giat on September 26, 2008


Selamat buat anak – anak NOS community atas hadir forum yang bebas dan terbuka buat siapa saja. Dengan adanya forum diharapkan kerjasama yang solit kepada seluruh anggota NOS dimanapun berada untuk menjadikan NOS sebagai salah konsultan IT di kota medan. Forum ini muncul dengan adanya diskusi antara sesama anggota komunitas NOS menyatukan visi dan misi untuk kelanjutan dan kemajuan NOS. Antara sesama anggota NOS sangat ditekankan adanya kebersamaan agar kelak menjadi komunitas yang mandiri serta mempunyai badan hukum yang tetap.

Forum ini ditujukan khusus untuk membantu menerima segala pertanyaan – pertanyaan yang menjadi masalah khususnya pada bidang komputer. Dengan beberapa anggota tetap NOS akan menjadi moderator yang akan memberikan penjelasan tentang masalah – masalah komputer, tak terkecuali membahas perkembangan dunia teknologi sekarang ini. Permasalahan yang akan ditanyakan pada forum akan dibahas bersama – sama antara sesama anggota forum lainnya. Untuk itu diharapkan sumbangsih antara semua anggota forum untuk bertukar ilmu dan pengetahuan agar dapat membahas segala permasalahan yang masuk pada topik di forum NOS.

Dengan begitu NOS kelak akan menjadi salah satu sumber informasi seputar perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di kota medan dan sekitarnya. Melihat kurangnya pengetahuan tentang komputerisasi maka NOS akan mencoba memberikan solusi pada masyarakat agar dapat mengerti IT tersebut. Untuk itu diharapkan kerjasama pada seluruh anggota forum.

Mari bersama – sama memberikan informasi dan pengajaran kepada yang butuh informasi teknologi dan komunikasi agar kelak masyarakat dapat memahami dan mengikuti arus teknologi khususnya di sumatera utara. Berikan yang terbaik guna membantu menjadikan pendidikan indonesia semakin maju dan modal untuk membangun masyarakat yang sejahtera. ayo … NOS Community …

Tagged with:

Pengenalan Sistem Operasi Linux pada kampus

Posted in Artikel Lepas by giat on September 20, 2008

Memperhatikan perkembangan opensource akan berhubungan pada perkembangan system operasi Linux. Saat ini system operasi Linux mengalami kemajuan  begitu meyakinkan dan lebih terdistribusi terlihat dari begitu banyaknya komunitas – komunitas pecinta Linux maupun distro – distro linux muncul misalnya distro ubuntu yang sudah hampir sama dengan system operasi windows. Hal tersebut terlihat dari berbagai fitur – fitur penting pada Ubuntu dan system GUI pada Ubuntu sudah sangat nyaman untuk pemakai Ubuntu. Salah satu alasan Linux lebih cepat diterima di kalangan masyarakat adalah system software nya yang opensource dan dapat diambil secara bebas tanpa ada batas kemudian dapat mengcopy-write source code Linux . Tidak seperti Sistem Operasi Windows yang comersil sehingga setiap pemakai windows diharuskan untuk membeli produk dan lisensi pada perusahaan Mictosoft. Dengan hal itu maka banyak kalangan tertentu mengkopi file windows dan dijadikan sebagai versi bajakan yang tidak original. Versi – versi bajakan dijadikan sebagai produk yang dipakai pada system operasi windows.

Sistem operasi Linux telah merambah ke berbagai  kalangan muda khususnya mahasiswa dan  pelajar sekolah tingkat atas. Linux juga mulai memasuki dunia bisnis misalnya perusahaan – perusahaan memakai Linux sebagai system operasi nya. Perusahaan bisnis memakai linux karena linux dinilai lebih stabil dan secure disbanding system operasi lain misal Windows. Source code Linux juga dapat dimodifikasi dan dikembangkan oleh developer – developer tertentu yang membuat begitu banyak distribusi (distro) Linux sekarang dan hampir tiap distro – distro tersebut memiliki  komunitas sendiri yang dapat bertukar informasi  sserta source code seputar distro yang pergunakan oleh masing – masing komunitas. Dengan pemakaian linux pada perusahaan besar diyakini akan menambah popularitas Linux sebagai system operasi dengan kehandalan dan keamanan yang terpercaya.

Sistem operasi Linux saat ini mulai merambah ke instansi – instansi pendidikan khususnya di universitas. Hal ini dilakukan melihat begitu pesat nya minat dan kemauan para pelajar untuk mengenal system operasi linux. Ini dikarenakan system operasi windows yang comersil itu harus dibeli untuk memperoleh SO windows. Dengan linux yang akan dikenalkan pada pelajar/mahasiswa akan membuat wawasan dan pengetahuan akan system operasi lebih mengerti dan bisa menentukan system operasi apa yang seharusnya dipergunakan dan tidak memungut biaya.

Salah satu  instansi pendidikan yang mulai memakai system operasi Linux yakni Universitas Sumatera Utara (USU). USU mulai beralih kesistem operasi opensource hal tersebut dilakukan mengingat mulai banyak aksi sweeping yang dilakukan oleh aparat berwajib guna merazia software – software bajakan. Pemakaian system operasi linux pada universitas sumatera utara sudah di mulai sejak tahun 2000 akan tetapi mulai diminati pada tahun 2004. Sampai sekarang peminat linux (terutama para mahasiswa) untuk kampus USU sudah mulai banyak hal tersebut terlihat berdirinya suatu pusat komputerisasi berbasis linux yang dilakukan mengingat Windows yang telah dipakai selama ini sangat rentan terhadap aksi sweeping software bajakan. Dengan linux akan membuat perubahan baru bagi instansi pendidikan ini untuk mendemonstrasikan SO linux di lingkungan kampus USU.

Di USU sendiri terdapat kampus dimana pemakainya menggunakan linux sebagai system operasi alternative selain windows. Kampus Ilmu Komputer S-1 USU merupakan kampus yang telah lama memakai system operasi linux akan tetapi sekarang mengalami perkembangan begitu cepat. Kebanyakan mahasiswa telah mengenal dan memakai linux sebagai system operasi walaupun pemakaiannya masih Dual-Boot paling tidak pengenalan linux sudah mulai dirasakan oleh orang – orang yang belum pernah merasakan sama sekali.

Kalau diperhatikan pemakaian linux sebagai pengganti windows yang mana telah mendarah daging sejak dulu untuk system operasi, pemakaian Linux lebih ditujukan sebagai riset maupun analisis karena dinilai sulit untuk mengoperasikan linux dan hal ini  membuat system operasi kurang dapat diterima oleh masyarakat luas. Seperti diketahui Sistem Operasi Linux dikenal suatu system operasi yang handal dengan  tingkat sekuritas terjamin. Tidak terkecuali pada distro Ubuntu diperlukan karena distro yang satu ini mudah dalam pengoperasian dan lebih bersahabat pada pemakai. Ubuntu lebih user interface sehingga pemakaiannya tidak dengan konfigurasi – konfigurasi yang membosanakan pemakai, ubuntu sudah lebih mirip dengan windows.

Dengan belbagai aplikasi yang mudah dalam pengimplementasian distro linux ubuntu membuat system operasi ini mulai diterima dan dipergunakan untuk system operasi pengganti windows. Aplikasi – aplikasi yang sangat GUI interface dan tidak kalah baiknya dari windows. Distirbusi – distribusi linux  lainnya kelak akan lebih user interface seperti ubuntu hal ini terlihat dengan muculnya distro lainnya seperti Ubuntu misalnya OpenSuse dan banyak lagi. Perkembangan system kernel linux kelak akan menggantikan windows yang bertahun – tahun menguasai komputerisasi.

Artikel selajutnya akan membahas “kelebihan system operasi Linux dengan Windows

Tagged with:

Multimedia pada Opensolaris2008.05

Posted in Solaris by giat on September 15, 2008

Opensoalris2008.05 sekarang sudah lebih interaktif dan kaya akan multimedia yang membuat pengguna salah satu distro Solaris jadi mudah untuk menikmati suguhan film maupun music. Setelah sebelumnya aplikasi Songbird berjalan pada opensolaris2008.05 yang memudahkan dalam mendengar music, untuk ini solaris menambahkan pemutar film/video pada opensolaris2008.05 sehingga pemakai distro ini akan lebih menikmati film kesukaan nya.

Realplayer merupakan salah satu aplikasi pemutar video yang sangat baik. Segala jenis file video dapat diputar pada realplayer dan akan menghasilkan  video dengan kualitas gambar yang baik. Realplayer dapat diinstall pada opensolaris2008.05 dengan mendownload packet realplayer kemudian install pada directory kerja opensolaris2008.05. Biasanya packet yang diberikan masih dalam bentuk file tar.gz (file extrakkan untuk solaris). Extrak file tersebut kemudian lakukan install untuk realplayer.

$ gunzip realplay_bin_s10_i386.tar.gz
$ tar -xvf realplay_bin_s10_i386.tar

Sebelum file realplayer di install buat salah satu directory untuk realplayer agar lebih mudah dieksekusi waktu penginstallan missalnya pada directory /opt. Setelah itu coba install file realplayer yang telah di extrak. Agar lebih mudah pada penginstallan realplayer coba jalankan pada area GUI opensolaris200.05.

Setalah dilakukan seperti diatas cari packet untuk menjalankan aplikasi realplayer pada aplikasi opensolaris2008.05 secara online yang akan memudahkan pencarian film yang akan keluar di bioskop – bioskop dunia. Aplikasi VLC merupakan aplikasi pemutar video secara online. Untuk melakukan hal tersebut install binary packet VCL pada opensolaris2008.05. caranya masih biasa, download packet VLC kemudian extrak setelah itu lakukan penginstallan.

$ pfexec pkg set-authority -O http://pkg.lifewithsolaris.jp:10000 lifewithsolaris.jp
$ pfexec pkg refresh –full
$ pfexec pkg install -v LWSvlc

Aplikasi multimedia telah berhasil dijalankan pada opensolaris2008.05. Aplikasi realplayer dapat dilihat pada menu Aplications > Sound & video >VLC media player. Coba jalankan salah satu video kesukaan kamu dan nikmati koneksi internet untuk memutar video yang terbaru .

Tagged with:

Routing BGP single default route

Posted in BGP by giat on September 12, 2008

Konfigurasi BGP dengan single default route merupakan settingan routing untuk mengenal routing network yang berada diluar routing tabel yang ada. Misalnya terdapat suatu interkoneksi dengan ISP(internet service provider) dengan router tetangga/neighbor hal ini akan membuat routing pada ISP tidak akan sampai ke router yang kita miliki(konfigurasi). Untuk ini kita membutuhkan konfigurasi router BGP yakni Default-originate, settingan tersebut akan membuat routing pada ISP dapat sampai ke router kita.Sebagai contoh di bawah ini
akan menjelaskan konfigurasi router BGP dengan Default-originate.

Penjelasan pada gambar dimana pada kedua router saling terhubung dengan memakai nomor AS sama AS-1. Router A terkoneksi ke Router B dengan network 10.1.1.0 kedua router tersebut dapat saling berkomunikasi tanpa ada halangan. Router B terkoneksi dengan ISP atau Internet dengan network address 10.1.2.0/30 hal ini akan membuat router A tidak bisa mengenal network tersebut karena berada diluar routing tabel router A, untuk itu diperlukan konfigurasi default-route agar network luar dapat dikenal. Berbeda settingan default-router untuk router BGP, kali ini BGP akan memakai settingan sendiri yakni default-originate.

Default-originate akan menerangkan network diluar tabel routing yang kita miliki. Sama halnya dengan settigan routing default-route dipakai untuk routing internal.

Router A

router bgp 1

neighbor 10.1.1.2 remote-as 1

no sync

Router B

router bgp 1

neighbor 10.1.1.1 remote-as 1

neighbor 10.1.1.1 default-originate route-map exists
!

access-list 1 permit 10.1.2.0 0.0.0.3

!

route-map exists permit 10

match ip address 1

Konfigurasi diatas merupakan settingan pada router BGP untuk mendapatkan tabel routing ISP yang akan diperkenalkan pada Router A. Konfigurasi router B akan mengenal network internet kedalam tabel routing BGP router B sehingga router A dapat mengenal network tersebut. Setelah konfigurasi dilakukan coba periksa hasilnya pada tabel routing masing – masing router baik router A dan B dengan command show ip route untuk routing tabel dan show ip route bgp untuk tabel routing bgp. Apabila pada tabel routing tiap–tiap router menunjukan network address ISP/Internet tersebut berarti konfigurasi yang dilakukan berhasil kalo tidak coba lakukan verifikasi ulang terhadap konfigurasi masing -  masing router.

routerA#show ip bgp

BGP table version is 3, local router ID is 172.17.1.1

Status codes: s suppressed, d damped, h history, * valid, > best, i – internal

Origin codes: i – IGP, e – EGP, ? – incomplete

Network          Next Hop            Metric LocPrf Weight Path

*>i0.0.0.0          10.1.1.2                      100      0 i

*>i10.1.2.0/30      10.1.1.2                 0    100      0 i

routerA#show ip route

Codes: C – connected, S – static, I – IGRP, R – RIP, M – mobile, B – BGP

D – EIGRP, EX – EIGRP external, O – OSPF, IA – OSPF inter area

N1 – OSPF NSSA external type 1, N2 – OSPF NSSA external type 2

E1 – OSPF external type 1, E2 – OSPF external type 2, E – EGP

i – IS-IS, L1 – IS-IS level-1, L2 – IS-IS level-2, * – candidate default

U – per-user static route, o – ODR, P – periodic downloaded static route

T – traffic engineered route

Gateway of last resort is 10.1.1.2 to network 0.0.0.0

10.0.0.0/30 is subnetted, 2 subnets

B       10.1.2.0 [200/0] via 10.1.1.2

C       10.1.1.0 is directly connected, Serial0

B*   0.0.0.0/0 [200/0] via 10.1.1.2

Terlihat tabel routing router A network – network yang telah diperkenalkan oleh router B. Terdapat network 10.1.2.0 merupakan network ISP/Internet yang telah default-originate kan router B. Network 10.1.1.0 network terkoneksi langsung oleh kedua router. Apabila ada masalah jangan disimpan dalam hati, tanyakan sama orang yang lebih mengerti . do the best job and you’ll be happy

Tagged with: